# 201901.

Sebagai seorang proletar idealnya saya mendedikasikan waktu 40 jam per minggu untuk bekerja, namun belakangan ini karena satu dan banyak hal membuat saya menghabiskan lebih dari 48 jam per minggu.

![](https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1742034786209/8b6b62bd-ee2f-4499-a2f3-2366f4e734a8.png align="left")

([sumber gambar](https://www.instagram.com/p/BskkV6DHio8/))

Alhasil saya pun sedikit keteteran menyoal pembagian waktu antara urusan domestik dan kehidupan sosial. Untuk urusan domestik menyangkut kebutuhan primer makan misalnya, saya yang seorang militan pedoman gizi seimbang acap kali merasa bersalah jika tak lagi bisa menyiapkan hidangan sesuai standar 4 bintang.

Pasangan saya menyakinkan bahwa tidak ada pribadi yang sempurna jadi *woles* saja (*doi* memang bukan orang yang rewel dalam hal mengkonsumsi makanan baginya setiap hari ada tempe dan telur adalah barokah luar biasa dari Gusti Allah). Namun militan tetaplah militan, maka pagi ini terinspirasi dari *mamak-mamak* proletar *seterong* pejuang MPASI maka saya pun membuat beberapa stok sayuran beku demi menyesuaikan ritme kebutuhan kejar tayang kapitalis.

(tulisan ini diterbitkan silang dari [Instagram](https://www.instagram.com/p/BskkV6DHio8/))

([ist](https://sua.ist))
