# Finchest.

Saya menonton ‹[Mank](https://thewhitewinecameupwiththefish.com)› bersama istri pada suatu waktu menjelang akhir tahun lalu. Film dengan ciri-ciri khas lama yang mudah saya—dan belakangan akhirnya juga istri saya—kenali berkat pengalaman menyelami daftar filmografi [David Fincher](https://en.wikipedia.org/wiki/David_Fincher).

Tapi film ini berbeda, karena ini film hitam putihnya yang pertama dan satu-satunya. Meskipun secara visualisasi, penggemarnya sudah dapat mencicipi contoh [*auteurship*](https://en.wikipedia.org/wiki/Auteur) monokrom seorang Fincher lewat sejumlah video musik, tepatnya yang dia buat untuk lagu [Madonna](https://youtube.com/watch?v=GuJQSAiODqI) dan [Justin Timberlake](https://youtube.com/watch?v=IsUsVbTj2AY).

Konon memang [Netflix](https://netflix.com/id-en/title/81117189) sejak [awal](https://netflix.com/id-en/title/80240715) sengaja mengambil risiko membiayai produksi film nir-warna ini demi tujuan non-komersial, yakni demi mencuri perhatian kritikus film, lalu berharap menyabet penghargaan-penghargaan film.

Sebagai seorang penggemar yang cenderung berkacamata kuda, tentu saya akan sangat setuju jika ‹Mank› layak mendapat penghargaan, seperti halnya film-film Fincher yang lalu, terlepas fakta bahwa film ini dihasilkan oleh sebuah rumah produksi film seri.

Pasca ‹Mank› saya mulai kembali menemukan dan membaca artikel-artikel baru tentang Fincher, saya berhutang terima kasih kepada Google yang selalu setia menyimpan data hasil pencarian saya.

Sebagai seorang sutradara dengan latar belakang yang melek teknik—berkat pengalamannya menggarap [Star Wars](https://en.wikipedia.org/wiki/Star_Wars) di [ILM](https://en.wikipedia.org/wiki/Industrial_Light_%26_Magic)—Fincher kerap mencoba hal-hal baru dalam segi teknis demi menyempurnakan mahakaryanya.

*«*[*We shape our tools*](https://en.wikipedia.org/wiki/Tool#Tool_metaphors)*,* [*and thereafter our tools shape us*](https://quoteinvestigator.com/2016/06/26/shape)*.»* Untuk keperluan *shooting* ‹Mank› ia bahkan memesan kamera dengan [sensor khusus](https://ymcinema.com/2020/01/01/the-red-monstrochrome-is-being-used-by-david-fincher-to-shoot-a-feature) kepada pihak [RED](https://en.wikipedia.org/wiki/Red_Digital_Cinema) demi mendapatkan spektrum warna yang *cucok* untuk produksi film hitam putih. Saya bahkan sampai hari ini masih tak mampu memahami jalan pikiran orang-orang yang rela menukar uangnya untuk kamera [Leica](https://en.wikipedia.org/wiki/Leica_Camera) [M Monochrom](https://us.leica-camera.com/Photography/Leica-M/LEICA-M-MONOCHROM).

Saya biasa mengenal Fincher lewat *stunt* kamera—dengan pergerakan mekanikal yang sangat halus—dan penggunaan efek tiga dimensi yang cukup luar biasa untuk adegan yang tampak sederhana. Sesuatu yang banyak muncul di film-film lamanya, semisal ‹[Fight Club](https://en.wikipedia.org/wiki/Fight_Club)› dan ‹[Panic Room](https://en.wikipedia.org/wiki/Panic_Room).›

Tapi dalam ‹Mank› saya tak banyak menemukan ciri-ciri khas tersebut, selain [*cigarette burns*](https://en.wikipedia.org/wiki/Cue_mark) di sebelah kanan atas layar seperti yang dulu pernah [diperkenalkan](https://youtube.com/watch?v=ru4glg0RJxA) oleh [Tyler Durden](https://en.wikipedia.org/wiki/The_Narrator_\(Fight_Club\)). Rupanya seiring matangnya usia dan pengalaman, pasca ‹[Zodiac](https://en.wikipedia.org/wiki/Zodiac_\(film\))› Fincher mulai berusaha mengurangi *stunt* tersebut dan memilih untuk memerdayai mata penonton sinema lewat cara yang lebih *subtle*.

Ditulis oleh—sang ayahanda—[Jack Fincher](https://en.wikipedia.org/wiki/Jack_Fincher_\(screenwriter\)), naskah ‹Mank› adalah naskah tua yang telah lama ingin ia wujudkan dalam wujud sinema. Sayangnya, seorang Fincher muda bukanlah sutradara dengan dukungan materi dan kebebasan berekspresi luas, dan masih perlu menghamba pada peringkat *box office* yang menjadi sumber kelangsungan studio film. Naskah warisan—Jack Fincher meninggal dunia pada tahun 2003—itupun akhirnya berakhir tersimpan di rak, hingga kini, berkat kemurahan hati pihak Netflix.

Memang betul kata Manohla Dargis jika David Fincher dan film-filmnya adalah spesies yang [langka](https://nytimes.com/2021/01/01/movies/david-fincher.html)—dan semakin langka di era keemasaan film *franchise*—karena selalu setia menyuguhkan persembahan yang mengecewakan selera umum khalayak penonton sinema pengidam akhir bahagia.

Meskipun demikian, hal itu tak akan mengubah apapun, bagi saya apapun yang melibatkan tangan David Fincher adalah jaminan mutu kepuasan sinematografis. David Fincher selamanya akan menjadi sutradara sempurna yang berhasil mengadaptasi [novel](https://en.wikipedia.org/wiki/Fight_Club_\(novel\)) [Chuck Pahlaniuk](https://en.wikipedia.org/wiki/Chuck_Palahniuk) menjadi sebuah [khayalan](https://lithub.com/everyone-misunderstands-the-point-of-fight-club) pemberontakan anti-korporasi bagi seorang pemuda pada masa pencarian jati dirinya.

Untuk film-film adaptasi mengecewakan lain yang akan datang, mari angkat topi dan bersulang, sambil berharap akan terjadinya mukjizat yang membuat ‹[The Girl With The Dragon Tattoo](https://en.wikipedia.org/wiki/The_Girl_with_the_Dragon_Tattoo_\(2011_film\))› akhirnya benar-benar menjadi trilogi meski tak laku dijual. [*Prosit!*](https://en.wikipedia.org/wiki/Toast_\(honor\)#The_German_word_%22prost%22)

([sua](https://sua.ist))
