# Igs...

![](https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1742096103748/3b0527a4-7939-4f2e-9bf3-a86a8dc1a2c9.jpeg align="left")

([sumber gambar](https://www.oldbookillustrations.com/illustrations/shop-paris/))

Beberapa waktu yang lalu secara iseng saya mencoba mengaktifkan fitur Instagram Shopping pada akun [**@**](https://instagram.com/ofisia.name)[**ofisia.name**](http://ofisia.name), dan ternyata berhasil, tentunya setelah melalui tetek bengek prosedur autentifikasi *domain*. Saya kemudian segera menambahkan enam belas item [**versuaist**](https://ver.sua.ist/) ke dalam katalognya. *Really easy peasy, actually.*

Namun kenyataannya berbeda ketika saya mencoba mengaktifkan fitur Instagram Shopping pada akun [**@versuaist**](https://instagram.com/versuaist), waktu itu saya tidak dapat mengaktifkan fitur tersebut karena dianggap belum *eligible*, yakni akibat *account presence* yang dinilai belum *established*. Menurut saya memang wajar, sebab akun yang ini masih baru seumur jagung jika dibandingkan akun yang sebelumnya.

Seperti salah satu lagu [Gombloh](https://en.wikipedia.org/wiki/Gombloh) yang legendaris—judulnya «[Karena Iseng](https://www.youtube.com/watch?v=cMkzxSeZi88)»—serta pula karena penasaran, saya mencoba mencari tahu apakah faktor dan atau variabel penilaian *account presence* adalah aktif atau tidaknya sebuah akun saat sedang *logged in* dan menjelajahi *feed* Instagram.

Maka akhirnya dalam dua hari berturut-turut saya rajin menelusuri *feed* dari sejumlah *hashtag* tertentu, lalu pula secara membabi buta mengikuti berbagai akun dengan demografi tertentu. Selang dua hari kemudian, tanpa terasa, jumlah akun yang saya ikuti telah mencapai angka ribuan.

Rupanya trik akal-akalan tersebut berhasil, pada hari itu juga saya akhirnya dapat *apply* untuk mengaktifkan fitur penunjang siklus konsumerisme tersebut. Sekali lagi, dengan patuh dan sesuai aturan, saya melalui tata laksana autentifikasi *domain* dengan antusias dan optimis. Dalam sekejap, autentifikasi berhasil, dan saya segera masuk dalam tahap lanjutan setelahnya, yakni penilaian *legit* atau tidak *legit*nya sebuah toko daring dan item-item yang ditawarkan olehnya.

Barangkali verifikasi ini memang dilakukan secara manual oleh *staff* Instagram, manusia asli, bukan bot dengan algoritma tertentu, sebab saya tak kunjung mendapatkan konfirmasi sepanjang *weekend*, tidak seperti proses kilat akun sebelumnya yang berlangsung pada saat *weekday*.

Pada hari Senin, konfirmasi yang ditunggu telah tiba, dan sayangnya nasib mujur sedang tidak berpihak pada saya, saya tidak lolos penilaian untuk pengaktifan fitur Instagram Shopping. Barangkali memang *staff* manusia tulen yang sedang kebagian *shift* untuk verifikasi aplikasi saya akhirnya mencium sesuatu yang *fishy* dari lonjakan jumlah angka ‹*following*› pada statistik akun saya. *Oh well, hopefully better luck next time.*

([sua](https://sua.ist))
