# Instafolio (Part II).

Setelah beberapa waktu mencoba menggunakan [Folio](https://savewithfolio.com/), izinkan saya untuk membagikan pengalaman pribadi saya tentangnya. Secara umum, Folio sudah cukup menjawab kebutuhan saya, yakni demi memungkinan saya membaca artikel ketika sedang dalam mode luring. Namun, kekurangan Folio dibanding [Pocket](https://getpocket.com/home) adalah ia tidak menyimpan gambar dalam *cache*, sehingga pengalaman membaca direduksi hingga sekadar menjadi *text only*. Sehingga, sebagai seorang desainer, seringkali saya kesusahan memahami konteks ketika gambar-gambar *insert* di sebuah artikel desain tidak muncul sama sekali.

Akan tetapi, lambat laun saya berubah pikiran dan mulai terbiasa menganggap hal tersebut sebagai *blessing in disguise*, yang justru membiasakan saya untuk lebih fokus terhadap tulisan dahulu sebelum gambar, toh kalau memang sebuah artikel memang sepenting itu, tetap dapat saya tandai lewat *tag* agar kemudian dapat saya baca ulang secara paripurna ketika sudah kembali ke mode daring. Kekurangan lain Folio dibanding [Instapaper](http://www.instapaper.com/) dan Pocket adalah ia tidak memiliki fitur sortir acak, sesuatu yang amat sangat berguna ketika seorang pengguna seperti saya dihadapkan pada [*paradox of choice*](https://en.wikipedia.org/wiki/The_Paradox_of_Choice), seringkali *overwhelmed* dalam proses menentukan mana satu diantara puluhan—kelak ratusan bahkan ribuan—artikel yang sebaiknya dibaca lebih dulu.

![](https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1758982834745/d2b86660-3b96-4de7-afa4-63dc886b425e.png align="center")

([sumber gambar](https://www.type-together.com/demos/literata/))

Satu hal minor yang membuat saya jatuh cinta pada Folio adalah karena secara *default* ia menampilkan artikel menggunakan [Literata](https://en.wikipedia.org/wiki/Literata), yang menurut saya merupakan salah satu *typeface* berlisensi [*open source*](https://openfontlicense.org/) dengan gaya *italic* terbaik, terima kasih kepada bung [José Scaglione](https://www.type-together.com/jose-scaglione) dan nona [Veronica Burian](https://www.type-together.com/veronika-burian) [*cum suis*](https://www.type-together.com/). Selain Literata yang, Folio juga dibekali dengan beberapa opsi *open source* lain yang tak kalah menawan, misalnya ketika saya sedang bosan membaca pakai Literata yang berjenis *serif*, saya dapat memilih pakai [IBM Plex Sans](https://en.wikipedia.org/wiki/IBM_Plex) yang berjenis *sans-serif*. Sepertinya bung [Nick Chapman](https://www.threads.com/@nchapman) memang memberikan perhatian khusus pada departemen tipografi, hanya saja sayangnya antarmuka untuk pemilihan *typeface* dan tata letak tulisan masih agak [*buggy*](https://en.wikipedia.org/wiki/Software_bug), kadang muncul kadang tidak, namun saya tidak akan terlalu mengeluh soal hal ini, pilihan *default* Literata sudah sangat memuaskan untuk sebagian besar waktu.

(baca [Part I](https://blog.sua.ist/instafolio))

([sua](https://sua.ist))
