# Instemp.

Hal pertama yang segera saya lakukan seusai merampungkan pengaturan blog ini adalah mendaftarkan sebuah [**akun** baru](/konnekshun)—dengan *username* [@](https://instagram.com/sua.ist)[sua.ist](http://sua.ist)—di Instagram, sebab saat ini pada kanal media sosial itulah kami berdua <s>paling</s> lumayan sering aktif, atau setidaknya bisa dibilang lebih aktif ketimbang Facebook atau Twitter. Istri saya bahkan enggan membuang waktunya untuk mendaftarkan akun Twitter sendiri, alih-alih ia sekadar menggunakan *username* saya untuk *login*.

Kelebihan utama yang membuat Instagram unggul IMHO adalah kesederhanaannya, dimana pengguna hanya disuguhi sejumlah fitur yang terbatas, dan pengguna tidak diizinkan mencantumkan tautan yang berpotensi menjadi *outbound link*. Mayoritas pengguna akan tetap berada dalam aplikasi Instagram hingga mereka dengan sengaja menekan tautan pada sebuah iklan linimasa, sebuah *story* yang dapat di *swipe up*, atau sebuah *link in bio*.

Steve Krug pasti bangga karena Instagram memungkinkan para penggunanya mengabiskan waktu mereka dalam buaian *infinite scroll* tanpa perlu banyak berpikir, deretan gambar-gambar dalam susunan vertikal satu atau tiga kolom dapat seketika berubah menjadi candu jika tidak dibatasi lewat pengaturan *screen time*. Jika *«a picture is worth a thousand words,»* maka sebuah gambar di Instagram dapat bernilai ribuan milidetik, atau bahkan lebih.

Dalam zaman modern yang kian bergelimang *constant partial attention* dan *<s>attention deficit</s>* *short attention span* ini, siapa yang tidak tertarik mengkonsumsi informasi dalam bentuk gambar, alih-alih dalam bentuk teks? Sehingga—mau tidak mau—saya terpaksa menerjemahkan bahasa teks menjadi bahasa *visual* demi dapat melakukan *content recycle* lewat konten Instagram.

![](https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1742033509872/a3aac07a-cdcc-436e-a3a6-9e08ebf215e6.gif align="left")

Saya menyiapkan sebuah templat sederhana dengan rasio 2:1 yang kemudian dapat dibagi menjadi dua bagian, agar dapat di *swipe* secara *horizontal* pada sebuah *carousel post*. Karena tautan pada *caption* Instagram tak akan pernah dapat di klik, dan karena saya juga enggan *‹high effort, low impact›* untuk mengelola *link in bio*, maka saya putuskan untuk *live with it* dan menerapkan jurus [*link in* ***BRC***](/brc).

![](https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1742033515152/2ee8d606-bdd3-44e0-9fc6-800eedf6df2a.gif align="left")

Pada kloter pertama, saya telah menyiapkan tiga puluh pasang gambar untuk diterbitkan secara otomatis, tepatnya dua kali dalam seminggu, tiap *<s>ash</s> wednesday dan <s>black</s> sabbath.* Itupun masih tersisa sepertiga bagian, karena batasan fitur penjadwalan *advanced* pada Creator Studio. Usai dijadwalkan, saya dapat membiarkan Instagram berjalan *auto pilot* hingga <s>tiga</s> dua bulan setelahnya. Untuk <s>sementara waktu</s> saat ini, *workflow* ini IMHO lumayan *‹low effort›* *lah*...

(bersambung ke ‹[Part II](/instemp-part-ii)›)

([sua](https://sua.ist))
