20210522.

Kemarin dua pasang makhluk berkaki pendek yang biasa dikenal sebagai keponakan berkunjung ke kediaman kami, mereka sekadar transit usai bertamasya di Kebun Binatang Surabaya, sebelum kembali meneruskan perjalanan pulang menuju kota tetangga—Sidoarjo—ketika matahari telah tenggelam.

(sumber gambar)

Namun sebelum waktu produktif terokupasi oleh kegiatan membakar kalori mengamankan duo cebol ketika berlarian kesana-kemari, untungnya pada dini harinya saya telah berhasil memutakhirkan situs dua proyek sampingan berbasis OCD saya yakni linklist serta typesites, menambahkan seribu lalu belasan daftar tautan baru ke dalamnya, respectively.

Keponakan saya yang paling kecil—kini berusia dua tahun tiga bulan—biasa mengetahui bermacam ragam flora dan fauna lewat video-video di aplikasi Youtube Kids, namun anehnya ia justru takut dan menjaga jarak ketika menyaksikan secara langsung hewan-hewan yang biasa ia tonton tersebut. Barangkali ia kaget dengan perbedaan skala antara yang tampil di layar gawai dengan apa yang tampil beberapa meter di depan kelopak matanya.

Syukurnya di sekitar kediaman kami ada sejumlah fauna lokal yang dapat menjadi bahan hiburan ringan pengalih perhatian keponakan terkecil kami dari layar gawai ketika ditinggal ayah dan ibunya memejamkan mata memulihkan energi. Mulai dari kucing-kucing kampung yang beraneka ukuran, ras, massa lemak serta jumlah codet, cendera mata aksi-aksi yang membikin perselisihan. Kadal-kadal domestik yang memiliki kesabaran serta intelejensi lebih tinggi ketimbang tikus-tikus yang licik. Cicak-cicak di dinding yang diam-diam merayap. Lalu konfederasi unggas yang terdiri dari kontingen belasan ayam jago aduan, belasan burung dara berbulu hitam, serta sepasang bebek berbulu putih yang bepredikat last of its kind karena kawan-kawan mereka yang terdahulu telah menjelma menjadi bebek goreng.

Ketika sedang gantian membiarkan Wawa—nama panggilan keponakan saya yang terkecil—membakar kalori mengejar bebek-bebek bermasa depan suram tersebut, tetiba saya mendapati sebuah hal yang tidak biasa terjadi, seluruh ayam dalam barisan kurungan pada sisi kiri dan kanan saya tetiba menjadi gusar secara massal, seolah panik dan bagai ingin melarikan diri keluar dari dalam sangkar. Dari yang saya pernah tahu, kehebohan macam ini biasa terjadi menjelang sebuah bencana alam, sebab konon hewan memiliki kepekaan lebih tinggi terhadap keadaan alam sekitar mereka bumi.

Beberapa waktu lalu saya sempat merasakan beberapa detik getaran gempa yang berepisentrum di dekat kota Malang, yang dikabarkan akan disusul oleh gempa lain dengan satuan angka skala Richter yang lebih besar. Meninggalkan bekupon mereka, burung-burung dara berbulu hitampun ikut gusar secara massal, berterbangan pendek-pendek kesana-kemari bagai sedang lomba lompat jauh di olimpiade. Secara naluriah dan alamiah, sayapun menjadi latah, hati saya ikut-ikutan menjadi tak tenang.

Saya putusan untuk mengakhiri keasyikan Wawa secara prematur, dengan sigap serta setengah membujuk saya segera menggendong Wawa masuk, berharap dapat memberi peringatan dini pada yang lain ketika indikasi gempa susulan benar-benar terjadi. Saya paham, bahwa pada situasi ketika terjadi gempa sangat dianjurkan untuk berada di luar ruangan, seperti lokasi tempat saya dan Wawa sedang berada, namun mengetahui anggota keluarga lain masih berada di dalam ruangan, saya tak tega untuk menjadi tak acuh. Ketika di dalam, saya terdiam, untuk beberapa lama, sembari menimang-nimang Wawa yang mengoceh mengeluhkan keasyikannya yang baru saja diberhentikan secara paksa.

Rupanya waktu itu persatuan unggas-unggas sedang ribut atas prediksi yang salah. Naluri mereka ternyata meleset, dan kepanikan mereka dan kelatahan rupanya sia-sia belaka. Gempa susulan yang saya khawatirkan dengan super paranoid rupanya tak kembali datang berkunjung. Saya lega, benar-benar lega, to the stars academy the max. Wawa sekeluarga akhirnya pulang ketika matahari tenggelam, dan saya bisa kembali merebahkan punggung sambil menggulung isi layar gawai, lalu mendapati informasi dari BMKG bahwa telah terjadi gempa dengan magnitudo 6.2 skala Richter di sebelah tenggara Blitar. Pada saat tulisan ini diterbitkan, telah terjadi pula dua kali gempa susulan bermagnitudo 2.7 skala Richter di sebelah barat daya Turen dan Banyuwangi. Manusia memang tempatnya salah, tidak seperti unggas-unggas penderita gangguan kecemasan yang konyol itu.

(sua)