20210909.

Sejak beberapa hari yang lalu saya menerima sejumlah surat elektronik berisi notifikasi automation error dari Integromat dan Automate.io, dini hari kemarin saya sudah mencoba mengatasinya tapi belum berhasil. Deretan notifikasi error tersebut muncul dari integrasi mereka dengan Twitter dan Instagram, yang hingga saat ini belum saya tahu dan belum sempat cari tahu apa sebabnya. Apakah Twitter dan Instagram telah menjalin kesepakatan untuk mengubah pengaturan API mereka secara serentak berjamaah? Mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Baiklah, setelah dini hari kemarin saya terus menerus gagal mengatasinya, saya memilih untuk menuruti kehendak mata untuk terpejam, ketimbang semakin erosi emosi. Karena, kebetulan hari ini saya dan istri sedang mendapat undangan menghadiri sebuah upacara pernikahan, dan beberapa jam kemudian sudah menjadwalkan untuk tiba di—pura tertua di Surabaya—Pura Agung Jagat Karana.

Hari ini adalah kali pertama saya dan istri menyaksikan beraneka ragam prosesi upacara pernikahan tradisional umat Hindu, atau lebih tepatnya dengan adat Bali. Tradisi adalah sebuah warisan dengan pola khusus tertentu, yang urutannya dapat dirangkai dengan sempurna lewat suatu perencanaan matang, tanggung beres, jaminan mutu. Akan tetapi, lain cerita dengan tradisi baru nan kekinian, yang muncul sebagai warisan era pandemi.

Pasca seluruh prosesi usai dirampungkan, dan telah dianggap sah secara adat, kedua mempelai tetap mesti melibatkan kehadiran aparatur negara, sebagai pihak yang akan mengesahkan pernikahan mereka secara hukum. Nah, tentu sudah bisa ditebak, atas nama prosedur kesehatan, kini segala macam kegiatan administrasi umumnya dilangsungkan secara daring.

Dalam hal ini, pencatatan dan atau pengesahan akhir akta nikah kedua mempelai akan ditangani oleh pihak perwakilan dari dag dig dug Dispenduk Surabaya, yang pada hari itu sudah diagendakan untuk hadir, secara virtual lewat layar aplikasi Zoom. Piece of cake? Not really.

Sederhananya, warga Surabaya ini banyak, jika mereka ingin menikah, mereka dapat melaksanakannya secara serentak pada hari yang sama, di lokasi pilihan masing-masing. Hukum alam Kendala klasik antara supply dan demand, jumlah pihak perwakilan Dispenduk sudah barang tentu tidak sebanding dengan jumlah pasangan yang tak sabar segera melangsungkan malam pertamanya pada hari itu.

Walhasil, untuk sebuah kegiatan administratif dalam hitungan belasan puluhan menit saja, mempelai mesti menunggu antrian terlebih dahulu, bergantian dengan entah berapa pasang mempelai lainnya. Saya yang kebetulan kebagian job description sederhana dan super santuy untuk menyiapkan perangkat dan koneksi untuk teleconference Zoom tersebut akhirnya tidak dapat santuy-santuy amat.

Pada tahap-tahap akhir prosesi, tetiba layar Zoom yang sejak tadi hanya menampilkan loading confirmation spinner akhirnya berubah wujud menjadi seorang pria dengan seragam dag dig dug Dispenduk. Karena mempelai belum bisa berada di depan web camera komputer jinjing berwarna matte black merk Lenovo tersebut, saya menginformasikan dan mengharapkan pria tersebut untuk menunggu dulu barang beberapa belas menit saja, sembari saya memberi aba-aba kepada kedua mempelai untuk datang mendekat.

Deal or no deal? No deal! Maaf, ternyata negosiasi tidak dimungkinkan, layar Zoom kembali menciut, menutup, dan kedua mempelai yang masih berjibaku dengan prosesi adat tersebut secara otomatis dialihkan ke nomor antrian berikutnya. Maka, kemudian tersisalah saya disitu, duduk terpekur menatapi layar Zoom, menunggu kesempatan teleconference kedua, dengan mata kering bernuansa kemerahan.

Sejak beberapa hari sebelumnya, pihak Dispenduk telah mengabarkan bahwa slot waktu untuk kegiatan teleconferencing ini hanya dibatasi hingga pukul sebelas siang, entah atas alasan apa, mengingat jam kerja pegawai negeri sipil masih berlangsung hingga sore hari.

Setelah berharap-harap cemas agar tidak berpindah antrian pada keesokan harinya, akhirnya kedua mempelai dapat sukses kembali bertemu muka dengan pria dag dig dug Dispenduk tersebut, kurang lebih ketika hampir mendekati tenggat waktu tersebut. Atau, mungkin juga—rasanya—sedikit lewat dari tenggat waktu, entahlah, saya juga tidak memperhatikan jam, barangkali memang ada semacam injury time.

Tapi tak usah dipikir saja lah... yang penting akhirnya dianggap sah, dan segenap anggota keluarga dan para saksi yang hadir menyaksikan sudah dapat bertepuk tangan secara serempak, kemudian dilanjutkan dengan saling bersalaman, peluk cium, dan sebagainya. Sebenarnya saya ingin pula turut serta peluk cium, namun khawatir istri jadi cemburu buta, padahal yang mau saya cium laki-laki.

Seperti pada lazimnya, sebagai efek domino kurangnya jam tidur, seusai acara, setiba di rumah, saya langsung mematikan tombol on pada kelopak mata saya, lalu bergegas mengarungi samudera mimpi. Meski tidak memasang tanda ‹do not disturb,› pada momen-momen seperti ini, istri saya sudah paham bahwa saya tidak akan dapat diganggu dibangunkan hingga beberapa jam kemudian, bahkan jika ada gempa bumi sekalipun, true story, seriously.

Dini hari ini saya hendak kembali mencoba mengatasai automation error yang telah tersebut diatas, akan tetapi fokus saya malah teralihkan pada penulisan entri blog yang ‹gak ngalor, gak ngidul› ini. But, anyway, kepada kedua mempelai yang—semoga—sedang berbahagia, saya mengucapken «selamat menempuh hidup baru.»

Pada pagi hari menjelang pelaksanaan pernikahannya, tepatnya pada pukul empat lebih tiga puluh tujuh menit, sang mempelai pria membagikan video Youtube berisi lirik lagu Wild Horses milik The Rolling Stones di beranda akun Facebook miliknya. Dari temuan fakta ini saya dapat menyimpulkan jenis usaha yang akan dirintis oleh sang mempelai pria, untuk ini saya juga mengucapkan «semoga cuan cengli dunia akhirat.» Karena sejatinya horse adalah sebuah sebutan slang untuk diacetylmorphine heroin, yang telah jamak diketahui efek sampingnya dapat membuat ‹bahagia.› Jadi, sekali lagi, selamat berbahagia. Ya, oke, sip!

(sua)