300.

Beberapa hari lalu salah satu tumblog saya berhenti terbit otomatis, saya benar-benar did not saw it coming karena saya kira jumlah item dalam daftar queue saya masih banyak.

Angka maksimal queue Tumblr adalah 300 item, sudah bisa dipastikan tak butuh waktu terlalu lama hingga angka tersebut terlampaui oleh seorang oversharer yang kompulsif macam saya. Akibat batasan angka inilah, item-item baru biasanya saya simpan dahulu dalam daftar draft, sebelum nantinya saya alihkan menuju daftar queue jika keadaan sudah memungkinkan.

Daftar queue saya sudah mencapai angka nol pada tanggal 3 Januari lalu, namun baru beberapa hari setelahnya saya akhirnya berkesempatan menanggulanginya. Kenapa gerangan wahai saudara-saudari? Karena proses sepele tersebut tak semudah membalik telapak tangan, apalagi dengan kondisi koneksi internet yang sedang suboptimal, meski tak separah kondisi di Indonesia bagian timur.

Dua langkah yang perlu saya tempuh—menggunakan aplikasi mobile resmi Tumblr—sebenarnya sederhana saja. Pertama, buka daftar draft. Kedua, tekan tombol queue. Prosit! Masalahnya adalah daftar draft menampilkan urutan item secara reverse-chronological, serupa linimasa media sosial masa kini pada umumnya. Tentu saja secara instan jiwa warehouse clerk OCD saya bergejolak, daftar draft yang saya input secara kronologis idealnya di queue secara kronologis pula, because FIFO you mofo.

Jika saya berkeinginan menerbitkan queue secara secara kronologis, maka saya wajib melalui prosedur infinite scroll hingga mencapai dasar urutan draft yang jumlahnya lebih dari 400 item, baru kemudian akhirnya bisa melaksanakan dua langkah yang tersebut diatas, dengan koneksi internet yang juga tersebut diatas.

Let that sink in.

Tentunya ini bukan sebuah jalan buntu, masih ada opsi untuk beralih menggunakan antarmuka desktop pada website Tumblr, lalu berharap mendapati user experience yang lebih baik. Tetapi ternyata tidak, makin erosi nyong. Tumblr versi desktop memang tidak menyiksa penggunanya dengan infinite scroll, namun dengan siksaan lain yang sama-sama menghabiskan waktu.

Daftar draft memang ditampilkan dengan pagination, yang seharusnya sangat membantu penggunanya, tetapi tidak. It failed, big time. Pertama, tombol navigasi halaman ‹previous› dan ‹next› hanya ada di bagian footer, cukup menyebalkan jika tak ingat shortcut ⌘+↓. Kedua, tidak ada penomoran halaman, sehingga untuk mencapai halaman terakhir saya tetap harus menekan tombol ‹next› secara berkali-kali.

But wait… there’s more! Setelah mencapai akhir daftar draft dan berhasil menekan tombol queue, saya masih harus melewati obstacle lanjutan lainnya. Ketiga, kotak dialog konfirmasi queue ditampilkan pada overlay layar penuh dengan grup tombol yang centered secara vertikal dan horisontal sekaligus, sehingga akibatnya pointer tetikus saya jadi rajin melakukan infinite loop victory lap melintasi screen real estate, dari koordinat A menuju B, lalu kembali ke A. Koordinat B tentunya berada permanen di bagian tengah layar, dan takdir ini harus saya jalani sebanyak 300 kali karena mass post editor Tumblr hanya berguna untuk menambah atau menyunting tag secara massal.

Again, let that sink in.

Setelah mencoba mengatasinya dengan Amino—yang secara menyedihkan hanya bermanfaat untuk memindahkan posisi tombol ‹next› agar fixed di bagian kanan atas layar—pada akhirnya saya menghabiskan waktu sekitar 30 sampai dengan 45 menit untuk mengembalikan daftar queue pada kondisi terisi penuh. Untuk mengatasi jarak space travel antara koordinat A dan B, saya sekadar me-resize ukuran jendela peramban agar tak perlu menggerakkan pointer terlalu jauh, juga demi memperkecil risiko munculnya koordinat C. C is for CTS, which stands for carpal tunnel syndrome. Lame joke, I know, please blame my bad inefficient day.

(sua)