BLM.

Akibat terlampau malas mengisi pulsa data prabayar pada nomor seluler gawai, serta malas mengisi nilai nominal pada dompet elektronik, minggu lalu saya memutuskan untuk kembali menggunakan jasa angkutan umum untuk pergi ke dan pulang dari sebuah pusat perbelanjaan yang berjarak sekitar delapan kilometer perjalanan.

(sumber gambar)

Saya sengaja memilih tidak menggunakan kendaraan bermotor maupun sepeda angin karena ingin sejenak bernostalgia seperti masa-masa kejayaan angkutan umum—juga biasa disebut sebagai bemo—pada dahulu kala. Lagi pula tujuan saya hanya untuk membeli satu barang di satu tempat.

Terhitung kurang lebih tiga perempat jam saja saya selesai menuntaskan agenda pendek saya, termasuk durasi menyeberang melewati tiga lajur jalan raya dengan iringan efek suara membahana dari animal pelican crossing, serupa dribbling melintasi lapangan bola dengan kans kena sliding tackle oleh kendaraan roda genap.

Pandemi COVID-19 membuat seluruh dunia terobrak-abrik, terjungkir-balik, kacau balau. Pelajar dan mahasiswa kini beralih ‹school from home,› dan para pekerja pun kebanyakan juga beralih ‹work from home.› Sebelum maraknya ojek daring, para pengemudi bemo sebenarnya sudah semakin tidak kebagian kue pangsa pasar, lalu kemudian sekarang tambah parah akibat ‹corona world tour› yang secara harfiah benar-benar berakhir menjadi viral.

Dalam perjalan ketika berangkat, bemo yang saya tumpangi berisi tujuh karyawati PT HM Sampoerna Tbk—diakuisisi Philip Morris International pada Mei 2005—yang beberapa waktu lalu sempat menjadi tajuk utama berita nasional akibat ratusan karyawan—dan karyawati—nya terpapar corona.

Tentunya bukan wanita tulen jika tidak menghabiskan waktu sepanjang perjalanan dengan saling gibah mengobrol. Saya sebagai satu-satunya penumpang lelaki dalam kloter tersebut hanya bisa mencuri dengar menyimak topik pembicaraan mereka.

Soal rekan-rekan mereka yang sudah mendekati masa pensiun. Soal kegiatan rekan-rekan mereka yang kini sudah pensiun. Soal salah satu dari mereka yang tidak turun di pemberhentian biasanya karena hendak mengunjungi acara salah satu rekan yang sedang punya hajat, yang dianjurkan tidur saja hingga sampai ujung rute di terminal, akibat disinyalir menguap saja sejak tadi, meskipun mulutnya tersembunyi di balik masker.

Wahai hadirin dan hadirat yang terhormat, pada penghujung sesi diskusi ngalor-ngidul tersebut, sampailah kita pada petuah bijak dari salah satu dari mereka yang sepertinya paling dituakan seantero kursi panjang. Beliau memberi nasihat kepada Yth. Bpk. chauffeur agar tetap tabah menjalani hidup rute saat ini.

Dari petuah beliau saya mendapati fakta bahwa pendapatan bemo rute yang sedang saya tumpangi mayoritas ditopang oleh para penumpang dari cluster Sampoerna, selebihnya hanyalah penumpang selingan pengisi waktu yang tidak dapat dipastikan kemunculan batang hidungnya.

Saya speechless, karena bemo adalah salah satu bagian significant other dari kisah hidup saya. Saya helpless, karena tak berdaya apapun dalam rangka mengubah nasib mereka, para pengemudi tanpa SIM tanda jasa. Saya curious, penasaran ingin mendengar kelanjutan cerita. Tetapi saya sudah hampir tiba di tujuan, dan harus segera turun di pemberhentian berikutnya.

Angkat topi dan simpati terdalam saya untuk Yth. Bpk. chauffeur yang living life to the fullest, yang secara harfiah menekan pedal to the metal, karena sejatinya kepanjangan lain ‹BLM› adalah ‹Bemo Lives Matters.› With all due respect, please pardon the pun.

(sua)