Blue Moon.

Semenjak matahari mulai tenggelam, kemarin istri saya serba heboh ingin menyaksikan sebuah peristiwa langka. Sambil menunjukkan sejumlah post Instagram dengan topik bahasan yang serupa, dengan penuh semangat ia menjelaskan bahwa peristiwa tersebut akan mulai tampak di langit kawasan Indonesia mulai sekitar bakda Maghrib, para ahli menyebutnya sebagai fenomena Blue Moon.›

(sumber gambar)

Saya pribadi sebagai orang yang tidak terlalu hobi mengamati langit buta, lebih akrab mengenal ‹Blue Moon› sebagai sebuah lagu dari zaman baheula, yang telah di cover oleh cukup banyak musisi, mulai dari Frank Sinatra hingga Beck, to name a few.

Dalam rangka demi menyenangkan hati sang istri, maka berakhirlah kami di pinggir sebuah jalan yang berporos lurus ke arah timur, lokasi dimana bulan sedang nampang saat itu. Tentunya, sebelum berhenti di pos pantau pada koordinat tersebut, kami telah mampir ke toko sebelah yang hanya berjarak sepelemparan batu saja dari pijakan kaki kami.

Maka kemudian segera penuhlah kedua tangan kami dengan aneka kudapan dan minuman dingin. Maaf, kudapan yang kami pegang memang dibungkus dengan kemasan plastik, akan tetapi kedua minuman dingin berbasis serbuk dengan kandungan glukosa yang mengkhawatirkan tersebut, diramu—stirred, not shaken—dengan penuh dedikasi oleh tangan sang penjual, lalu kemudian dituangkan ke dalam dua wadah berukuran sedang, yang dicomot dari tumpukan koleksi Tupperware sang istri. Setidaknya malam ini tumpukan tersebut terbukti berguna.

Saat kami pertama kali mulai memantau, bulan sedang purnama, terlihat bulat penuh, tetapi bukan berwarna biru seperti foto ilustrasi pada sejumlah post Instagram yang ditunjukkan istri saya tadi, namun putih agak kekuningan seperti pada umumnya. Saya berkali-kali menanyakan ulang validitas informasi yang didapatkan istri saya, dan berulang kali pula saya dijelaskan bahwa banyak media penerbitan baik luring maupun daring yang menyampaikan hal yang sama. Singkat kata, malam ini bisa dipastikan akan ada fenomena ‹Blue Moon› di langit nusantara.

Akan tetapi, entah apakah karena Dewi Fortuna sedang PMS sehingga enggan menghadiahi ketekunan kami dengan imbalan nasib mujur, atau alam memang sedang bertindak secara alamiah, yakni tidak dapat dengan mudah ditebak. Walhasil, meski seluruh gerombolan kudapan dan minuman dingin telah bermigrasi bersama menuju titik kumpul di saluran pencernaan, warna kebiruan yang lama ditunggu-tunggu tak muncul-muncul jua.

Minuman dingin membuat kantong kemih saya cepat protes, lalu menuntut untuk minta jalan-jalan ke kamar kecil. Saya bergegas meninggalkan istri, dan memberinya pesan untuk semangat. Tapi entah karena rindu suami, atau karena sudah terlampau lelah menunggu hal yang tak pasti, akhirnya ia turut serta pula. Semoga saja lain kali kami lebih beruntung.

(sua)