IGS.

(sumber gambar)

Beberapa waktu yang lalu secara iseng saya mencoba mengaktifkan fitur Instagram Shopping pada akun @ofisia.name, dan ternyata berhasil, tentunya setelah melalui tetek bengek prosedur autentifikasi domain. Saya kemudian segera menambahkan enam belas item versuaist ke dalam katalognya. Really easy peasy, actually.

Namun kenyataannya berbeda ketika saya mencoba mengaktifkan fitur Instagram Shopping pada akun @versuaist, waktu itu saya tidak dapat mengaktifkan fitur tersebut karena dianggap belum eligible, yakni akibat account presence yang dinilai belum established. Menurut saya memang wajar, sebab akun yang ini masih baru seumur jagung jika dibandingkan akun yang sebelumnya.

Seperti salah satu lagu Gombloh yang legendaris—judulnya «Karena Iseng»—serta pula karena penasaran, saya mencoba mencari tahu apakah faktor dan atau variabel penilaian account presence adalah aktif atau tidaknya sebuah akun saat sedang logged in dan menjelajahi feed Instagram.

Maka akhirnya dalam dua hari berturut-turut saya rajin menelusuri feed dari sejumlah hashtag tertentu, lalu pula secara membabi buta mengikuti berbagai akun dengan demografi tertentu. Selang dua hari kemudian, tanpa terasa, jumlah akun yang saya ikuti telah mencapai angka ribuan.

Rupanya trik akal-akalan tersebut berhasil, pada hari itu juga saya akhirnya dapat apply untuk mengaktifkan fitur penunjang siklus konsumerisme tersebut. Sekali lagi, dengan patuh dan sesuai aturan, saya melalui tata laksana autentifikasi domain dengan antusias dan optimis. Dalam sekejap, autentifikasi berhasil, dan saya segera masuk dalam tahap lanjutan setelahnya, yakni penilaian legit atau tidak legitnya sebuah toko daring dan item-item yang ditawarkan olehnya.

Barangkali verifikasi ini memang dilakukan secara manual oleh staff Instagram, manusia asli, bukan bot dengan algoritma tertentu, sebab saya tak kunjung mendapatkan konfirmasi sepanjang weekend, tidak seperti proses kilat akun sebelumnya yang berlangsung pada saat weekday.

Pada hari Senin, konfirmasi yang ditunggu telah tiba, dan sayangnya nasib mujur sedang tidak berpihak pada saya, saya tidak lolos penilaian untuk pengaktifan fitur Instagram Shopping. Barangkali memang staff manusia tulen yang sedang kebagian shift untuk verifikasi aplikasi saya akhirnya mencium sesuatu yang fishy dari lonjakan jumlah angka ‹following› pada statistik akun saya. Oh well, hopefully better luck next time.

(sua)