Jalan.

«I know twenty twenty is fucked up.
But you got to keep rollin’.»

Demikianlah ucap Insthinc pada intro lagu ‹Motive,› yang saya dapati video liriknya pada hari yang sama saat saya mendapati kabar duka MF Doom.

Sebuah video semi-statis sederhana namun menarik—garapan Bramastya Bayu—yang secara sekilas cukup mengingatkan pada video klasik ‹Take On Me› milik A-ha, maupun video versi remake milik Weezer, berkat teknik animasinya yang à la live trace frame by frame.

«My love over Jazz and Hip Hop and forever too shy to talk.»

Pernyataan diatas adalah milik Densky Miftah a.k.a. Densky9, sang beat maker yang bertanggung jawab atas instrumental pengiring, yang memang bernuansa jazz, dengan snare drum yang juga sedikit mengingatkan saya akan pola TR-909 setelan Jonny Greenwood pada lagu ‹Videotape.›

Sebagai seorang pendengar yang lebih dahulu mendapatkan suguhan LPTextacy› sebelum EPGoldschool,› bagi saya beat racikan Galih Purnomo a.k.a. Slice Comedy a.k.a. Slysc hingga hari ini masih menjadi contoh acuan gold standard kombinasi sempurna one MC and one DJ, menurut selera pribadi dan telinga amatir low fidelity saya.

Mungkin cuma saya saja yang sekadar terlalu cerewet dan terlalu mendambakan kepadatan flow serta heaviness lirik, bagi saya rima pada bagian hook lagu ini kurang terdengar seperti Insthinc pada saat dan sebelum era ‹Textacy.› Urutan akhiran rima ‹Rambo, Rock ’n Roll, Bro dan Van Gogh› IMHO ibarat roti yang terlalu dini dikeluarkan dari oven, alias kurang matang.

«Persetan garisan tangan.
Kepak hasratmu kawan.
‘Tuk hidup penuh tantangan.
Kepal tinju di angkasa.»

Namun pada akhirnya—dengan sisipan rujukan ‹TDA› milik Doyz—lagu ini berhasil memenuhi takdirnya sebagai sebuah pemantik motivasi. Apalagi petuah Steve Jobs-ian pada bagian menjelang akhir, yang dengan cerdas mampu Insthinc korelasikan dengan ketabahan spiritual umat muslim, juga lirik penutup yang jitu macam nasihat super dari cocot’e Sis Maryono Teguh.

«Tahu rasa gagal macam kunyah sarapan.
Namun selalu lapar bak jalan di bulan Ramadhan.
Bukan alasan ‘tuk tidak tuang bumbu harapan.
Mimpi cuma jadi angan jika tak kau jalankan.»

Saya bukan penggemar olahraga basket, tapi jika saya memang penggemar, maka sudah pasti saya akan menyumpah serapahi tahun 2020 sejak bulan Januari, dan secara haqqul yaqin segera menasbihkannya sebagai tahun yang fucked up, most definitely. Barangkali itulah alasan kenapa outro lagu ini diisi dengan sample audio rekaman wawancara Kobe Bryant, sebab almarhum meninggal pada tahun 2020, tepatnya tanggal 26 Januari.

(sua)