Kartolo.
Beberapa bulan lalu saya mengunjungi Balai Pemuda untuk menyaksikan suatu acara, pada salah satu sudut ruang terbukanya terpampang urutan jadwal rangkaian acara selengkapnya. Mata saya tertuju pada agenda keesokan hari yang menampilkan pelawak tradisional kondang Kartolo, istri saya segera membalas dengan antusias ketika saya mengirimkan foto dan informasinya lewat sebuah aplikasi perpesanan. Keesokan harinya kami batal menonton pertunjukan Kartolo karena faktor kondisi fisik saya yang sedang tidak optimal.

Tadi malam salah satu jalan utama dekat kediaman kami ditutup, sebuah panggung wayang kulit didirikan di tengah jalan, letaknya sekitar beberapa puluh meter ke arah selatan dari gerbang balai kelurahan. Saya bukan penggemar wayang kulit, apalagi ketika acaranya—seringkali—digelar dan berlangsung hingga larut malam.
Akan tetapi tadi malam adalah sebuah pengecualian, karena sekali lagi istri saya kembali menjadi sangat antusias, karena selain menampilkan sang dalang, tiga sinden, serta beberapa belas pemain gamelan, akan dihadirkan pula bintang tamu istimewa, yang tak lain dan tak bukan adalah, Kartolo cum suis. Tepatnya, beliau tampil bersama Kastini dan Dewi Triyanti, a.k.a. sang istri dan putri bungsu, respectively.
Kalau saya tidak salah ingat, acara berakhir pada sekitar jam satu atau dua malam. Kaki saya pegal karena berdiri hampir sepanjang acara, gegara tidak kebagian tempat duduk, namanya juga acara gratis, jadi maklum saja. Kami berdua mengantuk sekaligus lapar, untungnya ada salah satu gerai waralaba ayam goreng yang buka—hampir—dua puluh empat jam di arah jalan pulang. Siapa yang dapat menolak hasrat makan junk food sebelum tidur? Saya tentu tidak.
Sepertinya kami sangat perlu mensyukuri dan mengenang pengalaman sederhana malam ini, karena bukan tidak mungkin sebentar lagi menonton ludruk akan menjadi kegiatan yang makin langka. Fun fact yang baru kami ketahui malam ini adalah bahwa Kartolo lahir di tahun empat lima, sehingga usianya setara dengan kemerdekaan Indonesia yang kini telah mencapai angka delapan puluh tahun.
Kartolo memang masih dianugerahi umur panjang, namun dari kondisi fisik yang terlihat pada malam ini, jalan yang mulai menjadi pelan tertatih-tatih, napas yang mulai menjadi berat dan sesak, suara yang mulai menjadi terdengar bergetar meski lantang, dan sebagainya, tidak akan ada yang tahu sampai kapan Kartolo dapat tampil menyapa penggemarnya.
Selain Kartolo, ludrukis legendaris idola saya lainnya adalah Basman dan Sapari. Dulu saya biasa mengunduh berkas audio—kemungkinan besar ilegal—rekaman sandiwara radio mereka, dengan berbagai judul dan alur cerita seringkali yang out of the box, saya putar ketika sedang bosan mendengarkan musik, sepertinya waktu itu Deftones, Komunal dan The Hives yang sedang heavy rotation. Kini keduanya—Basman dan Sapari—sudah rest in peace, namun untuk Kartolo semoga saja masih dapat selama mungkin live in peace.
(sua)