Pasha.

Sejak semalam saya telah mencoba menginstall, kemudian membandingkan kelebihan dan kekurangan antara Buttercup, LastPass, Zoho Vault dan Bitwarden. Hingga, akhirnya, siang ini saya tahbiskan Bitwarden sebagai aplikasi pengelola kata kunci pilihan saya.

(Buttercup, LastPass, Zoho Vault dan Bitwarden)

Sudah lama sekali saya mengetahui keberadaan alat bantu penjaga keamanan siber macam mereka ini, bertahun-tahun yang lalu nona Kathleen Azali—salah satu polymath idola saya—yang memperkenalkannya. Namun, ini bukan berarti sekarang saya jadi sedisiplin beliau di bidang srikiti-srikiti ini. Bahkan film Snowden saja belum saya tonton, padahal saya suka JGL.

Beberapa waktu lalu memang ada euforia penyeruputan data oleh aplikasi messaging sejuta umat yang bernama WhatsApp, yang membuat banyak penggunanya panik lalu berbondong-bondong pindah haluan menuju dermaga Signal dan Telegram.

Bung Elon Musk memang sah-sah saja merekomendasikan Signal di sana, tapi di sini uang dan politik tak ada artinya kebanyakan orang bakal lebih memilih Telegram. Bukan karena pertimbangan keamanan, namun karena banyaknya kanal penyedia seri drama Korea di situ. Setidaknya itulah fakta yang saya dapat dari observasi terhadap dari adik ipar perempuan saya, istri saya sendiri, serta sejumlah kawan wanitanya.

(sumber gambar)

Berbeda dengan tiga kontestan lain yang tak lolos audisi, Bitwarden memungkinkan saya membuat sebuah folder koleksi kata kunci, lalu membaginya bersama istri saya. Koleksi ini kemudian bisa di akses lewat aplikasi bawaan Bitwarden baik di komputer jinjing maupun ponsel pintar kami berdua. Kebetulan sekali, pada ponsel pintar milik istri saya terdapat pemindai sidik jari, yang saya set tetapkan sebagai pengganti kata kunci master utama pengunci aplikasi Bitwarden. So meta, I know.

Sehingga pada lain waktu ketika istri saya bertanya: «Suami… passwordnya ini apa?» Saya tinggal menjawab dengan tagline Yellow Pages: «Istri… cari tahu dengan jarimu.» Tentunya dengan dibarengi gestur jempol, kedipan mata, serta sedikit dosis senyuman. Barangkali ada yang kepo, judul ‹Pasha› diatas adalah sebuah singkatan yang saya bikin sendiri seenaknya, kepanjangannya adalah ‹Password Sharing.› Lame joke, I know.

(sua)