sua
January 30, 2022

Slntd.

(sumber gambar kiri, tengah, dan kanan)

Kemarin saya baru saja menambahkan informasi kontribusi serta tautan menuju galeri yang menampilkan dua desain kiriman saya untuk majalah Slanted—tepatnya edisi ketiga puluh enam, yang bertajuk COEXIST—pada halaman Info situs pribadi saya. Selain itu, saya menambahkannya pula pada sejumlah berkas Google Docs yang biasanya saya jadikan tautan cadangan résumé slash curriculum vitae dalam format digital.

Ketika sedang menyunting berkas-berkas Google Docs tersebut, saya sempat menemui sebuah kendala yang sama sekali belum pernah saya alami sejak dahulu kala, yakni dokumen yang sedang saya sunting menjadi keras kepala dan tetap bertahan pada mode read only, meskipun akun Google Workspace saya sudah benar-benar dalam keadaan logged in.

Setelah beberapa saat googling, saya mendapati bahwa salah satu kemungkinan penyebab yang dapat menjadi biang keroknya adalah ekstensi peramban—dalam hal ini saya sedang menggunakan Chrome—yang bisa saja memiliki kode sumber yang faulty, lalu kemudian menghasilkan efek samping yang buruk pada fitur vital Google Docs. Setelah mencoba mematikan, lalu menyalakan ulang sejumlah ekstensi Chrome, tim penyidik mendapati fakta bahwa sang tersangka utamanya adalah ekstensi yang bernama Invisible scrollbar.›

Kebetulan, ini adalah salah satu ektensi favorit saya, yang hampir belum pernah saya disable sama sekali sejak saat pertama kali instalasi. Karena fungsinya hanya sebatas untuk mempercantik tampilan visual, saya tidak pernah mengira ia dapat berdampak sefatal itu pada kinerja Google Docs. Let’s never do that again, said Chris Pontius.

(sua)