Spr Prdctvty.
Saat ini saya menggunakan Dynalist sebagai aplikasi to do list andalan saya, sebab ia sangat bare bone tanpa dijejali terlalu banyak fitur yang berlebihan dan riskan jarang—atau bahkan tak pernah—saya gunakan. Persis seperti halnya Simplenote, aplikasi minimalist lainnya yang menjadi andalan saya untuk kegiatan note taking.
Lalu pada suatu hari saya stumbled upon sebuah aplikasi open source dan cross platform bernama Super Productivity yang secara garis besar sepertinya menarik untuk digunakan sebagai pengganti Dynalist, sebab ia memiliki fitur time tracking yang menurut saya bermanfaat untuk mencapai ilusi produktifitas.
Akan tetapi, seperti biasanya, saya kembali hitting a wall karena ia tidak lagi mendukung sistem operasi yang saya gunakan, dan meskipun saya sudah menelusuri arsip Github demi menemukan versi lawas yang masih mendukung, hingga entri ini ditulis saya masih belum juga beruntung.
Saya sudah mencoba mengakali kendala ini dengan menggunakan sebuah tool berlisensi open source yang dapat membungkus web app menjadi sebuah native app—serta telah saya jabarkan pada entri sebelumnya—namun masih gagal juga, sehingga dengan berat hati saya harus mengucapkam selamat tinggal kepada Super Productivity, hingga kelak ketika akhirnya saya memutuskan untuk upgrade sistem operasi.
(sua)