Tanah Ibu Kami.

Kemarin malam ketika saya sedang bersiap pingsan akibat kurang tidur, istri saya tetiba memutar sebuah film dokumenter bertajuk ‹Tanah Ibu Kami› produksi The Gecko Project dan Mongabay di sebelah saya. Film tersebut merekam perjalanan jurnalis Febriana Firdaus menuju sejumlah penjuru tanah air, yang kemudian mewawancarai para narasumber wanita tentang pengalaman-pengalaman pahit mereka dalam memperjuangkan konservasi lingkungan di masing-masing daerah mereka.

Kisah para korban pembangunan korporasi dalam film ini kembali mengingatkan saya akan film ‹Sexy Killers› yang dulu juga menyentil Jokowi, perilisannya-pun juga sama-sama tepat waktu, yakni ketika Jokowi semakin diselimuti kabut pekat ‹Omnibus Law› belakangan ini, sebuah undang-undang yang konon bakal menukar keberlangsungan ekologi demi keberlangsungan ekonomi (baca: investasi), sehingga riskan menyemai benih-benih bencana alam buatan di kemudian hari.

Pada detik-detik ketika daya bohlam dalam kelopak mata tinggal limang watt, di bagian akhir film tetiba saya merasa seperti familiar dengan wajah salah seorang narasumber yang sedang diwawancarai. Saya sebenarnya benar-benar lupa, tapi berkat sekian milidetik meditasi dengan pemusatan kekuatan à la jurus curcuma akhirnya saya kembali mengingat sosok tersebut, yang ternyata adalah, oh, siapa tak kenal dia, tak lain dan tak bukan, Farwiza Farhan, yang pernah main bareng sama Leonardo DiCaprio di film ‹Before The Flood› dulu.

Film ‹Tanah Ibu Kami› dirilis dalam versi bahasa Inggris sebagai ‹Our Mother’s Land› dan terus terang saya tertarik untuk menontonnya pula, namun sayangnya bohlam dalam kelopak mata saya bukanlah merk Philips yang senantiasa ‹terang terus› dan bisa diatasi dengan jurus curcuma semata. Singkat kata, akhirnya saya tepaksa memilih untuk tidur, lalu menulis tulisan ini saat bangun.

(sua)