20161221.

Bukankah rangkaian aksara linimasa adalah perwakilan lisan dan benakmu? Bukankah tautan yang kau bagikan adalah persetujuanmu? Bukankah masing-masing kita mafhum bahwa segala pertanggung jawaban setia mengiringi baik dini atau nanti? Lalu kenapa tak kau saji dan bagi suatu yang berarti, yang tak menghakimi, yang tak melaknat dan satir menyakiti?

(sumber gambar)

Bukankah beragama tidak hanya melulu paham atas teks ajaran, melainkan juga berupaya sepaham-pahamnya terhadap konteks ajaran? Bukankah prasangka baik serta doa dan puji lebih menentramkan? Maka lantunkanlah tiada henti agar rima tak hanya dimiliki oleh bait puisi, namun terlantun juga pada doa pelapis hati.

Jika kau khawatir fitnah merajai, bukankah setiap kau rampungkan bacaan tasyahhud akhir disunnahkan kepadamu lantunan isti’adzah hanya kepada sang Khalik? Jika terlupa, mari tak abaikan bijak serta santun menilik dan menyunting kembali.

«Apabila seseorang di antara kamu selesai dari bacaan tasyahhud akhir, hendaklah ia membaca isti’adzah kepada Allah dari empat perkara.»

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

«Allaahumma innii a’uudhu bika min ‘adhaabi jahannama wa min ‘adhaabil qabri wamin fitnatil mahyaa wal mamaati wamin syarri fitnatil masiihiddajjaal.»

Artinya :

« Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati dan dari fitnah kejahatan al-masih al-Dajjal.»
— H.R. Muslim.

… #sindiranuntukdirisendiri #nyinyiritupenyakithati # bencicintajikabertautsamasamabuta #bencicintamudahsekalibertukarposisi

(tulisan ini diterbitkan silang dari Medium)

(ist)