20210817.
Hari ini tepat setahun yang lalu saat terbangun dari tidur, saya tiba-tiba memaknai kemerdekaan seperti yang saya tuliskan pada status IG. Entah apa yang saya asup sehari sebelumnya sehingga hadir celoteh tersebut, maka hari itu selepas pulang dari pasar saya meminta suami untuk mengambil foto saya dengan latar belakang warna merah putih yang terbentang disepanjang tembok mulut gang tempat tinggal kami guna melengkapi visual dari celotehan saya.
Pagi ini saya bangun dengan perut kram karena sedang datang bulan, serta menyadari bahwa hari ini Indonesia sedang merayakan kemerdekaan dari sayup-sayup lagu Hari Merdeka yang diputar oleh sound system sekolah yang tepat bersebelahan dengan dinding kamar kost saya. Saat itu pula saya mendapati suami saya merepost unggahan dalam akun IGnya dengan menuliskan caption “Kemerdekaan adalah nasi” dan secara bersamaan pula perut saya mulas memberi sinyal untuk segera menyelesaikan hajat pagi.
Hajat sudah ditunaikan, selanjutnya saya mengambil gawai dan memulai mencoba berceloteh tentang kemerdekaan sekali lagi. Saya berusaha mengawalinya dengan harapan, namun tanpa sadar saya malah menuliskan rentetan harapan-harapan sinis macam ini:
Semoga barisan pejabat-pejabat brengsek dapat segera mengakhiri penderitaannya melalui pledoi sakti.
Semoga kami rakyat senantiasa gembira walaupun hanya kebagian kaos partai dan bukan kain berharga aduhai.
Semoga kami rakyat senantiasa nyaman menyanggah beratnya beban ketidakadilan.
Semoga kami rakyat tidak perlu mengasah pisau hukum, karena hukum sudah piawai dan terasah tajam menjuntai.
Semoga kami rakyat senantiasa berpeluh prestasi, sehingga dapat memfasilitasi mereka-mereka yang sudah tidak sabar berkontestasi.
Semoga kami rakyat senantiasa tak kehilangan taji kreasi melalui lukisan pada tembok-tembok sunyi, walaupun harus beradu aksi hilang dan lukis kembali.
Pada akhirnya sebanyak apapun saya menuliskan satire, semoga sebanyak itu pula saya sadar bahwa tanah air saya tetap Indonesia, bahkan akan selalu Indonesia.
Bahwa lelucon e-KTP akan tetap relevan hingga masa huruf “e” tidak lagi difoto dan dikopi!
Bahwa hingga saya tidak tahu akan menuliskan apalagi dan yang terlintas dalam pikiran saya hanya kata nasi dan tai.
Maka saya memutuskan mengakhiri celoteh nirfaedah ini dan menjatuhkan pilihan untuk menuliskan sebuah puisi kemerdekaan yang mewakili imajinasi saya.
Kemerdekaan adalah nasi
Dimakan jadi tai
Widji Thukul
Agustus 1982.
Semoga tai-tai itu telah sempat memberikan nutrisi meskipun jauh dari standart gizi.
Sehat sehat segera sehat Indonesiaku.
(ist)