20251225.
Pada sebuah post⁽¹⁾ di akun LinkedIn miliknya, bung Tobias van Schneider menyebutkan lima tipe desainer hebat—menurut definisi beliau sendiri, tentunya—yakni ‹Commercial Chameleon,› ‹Execution Star,› ‹Beautiful Visionary,› ‹System Architect,› serta ‹Anthropologist Storyteller.› Tak lupa, beliau tambahkan pula keterangan bahwa tak semua desainer dapat memiliki kelima karakteristik tersebut sekaligus.
Meskipun demikian, saya teringat akan sudut pandang⁽²⁾ bung Andriew Budiman yang justru menyarankan bahwa desainer yang komplet—bukan hebat—perlu mengadopsi enam topi sekaligus, yang masing-masing mewakili peran penting dalam proses desain, yakni ‹Researcher,› ‹Analyst,› ‹Editor,› ‹Writer,› ‹Translator,› serta ‹Crafter.› Sama-sama realistis serupa bung Tobias, bung Andriew pun juga menambahkan keterangan bahwa menguasai topi-topi tersebut membutuhkan waktu, karena itulah kebanyakan desainer cenderung memilih topi yang paling nyaman mereka pakai.
Menanggapi bung Tobias, bung Sigit Adinugroho turut serta memberikan komentar⁽³⁾, menurutnya kita kurang pandai menerjemahkan hal-hal ini ke dalam persyaratan pekerjaan, perusahaan tidak selalu memahami apa atau siapa yang sebenarnya mereka cari.
Opini bung Sigit membuat saya teringat akan kutipan⁽⁴⁾ bung Milton Glaser, bahwa salah satu tantangan besar menjadi seorang desainer adalah Anda menjadi terlalu terkotakkan dan semakin lama semakin sempit, mengerjakan hal-hal yang semakin spesialis yang sudah Anda lakukan berkali-kali sebelumnya.
Menyepakati bung Sigit, saya rasa hal tersebut adalah wajar karena umumnya perusahaan adalah organisasi besar dengan alur kerja pakem yang disusun secara seksama berdasarkan kebutuhan rutin di lapangan. Kondisi pasar memang dapat berubah-ubah dalam waktu singkat, dan perusahaan pasti akan lambat laun beradaptasi mengikutinya, akan tetapi perubahan alur kerja tidak akan pernah semudah membalik telapak tangan. Ketika dihadapkan dengan gunung es di depannya, sebuah kapal pesiar tidak akan dapat bermanuver mengubah haluan selincah yacht yang lebih kecil.
Pada akhirnya, kini beban di pundak para pencari bakat, tim rekruitment dan staf SDM di semesta LinkedIn akan menjadi lebih berat. Sebab, hidup mereka tak lagi sesederhana memilah dan memilih gradasi warna keabu-abuan antar generalis, spesialis—atau barangkali versatilis—namun justru disajikan pelangi dengan spektrum yang lebih luas. Semoga sukses, bung dan nona sekalian!
Karena Tobias juga mengatakan bahwa tidak semua desainer dinilai secara setara, izinkan saya menghiasai paragraf terakhir ini dengan sesuatu yang sedikit filosofis, sebuah saduran verbatim dari buku⁽⁵⁾ berlisensi Creative Commons bung Frank Chimero: Dan jika kamu memperhatikan dengan saksama serta mengabaikan hal-hal yang tidak penting, yang menjadi jelas hanyalah ini: ada dunia tempat kita tinggal dan dunia yang kita bayangkan. Melalui gerak dan ciptaan kita, kita perlahan-lahan semakin mendekati dunia yang terakhir itu. Dunia membentuk kita, dan kita pun berkesempatan membentuk dunia.
⁽¹⁾ 🌐 https://linkedin.com/posts/activity-7402408145135800322-CZbc
⁽²⁾ 🌐 https://e-flux.com/education/features/6732747/design-pedaggedon-utopian-daydreams-in-today-s-dystopia
⁽³⁾ 🌐 https://linkedin.com/feed/update/urn:li:activity:7402408145135800322?commentUrn=urn%3Ali%3Acomment%3A%28activity%3A7402408145135800322%2C7409399062061301760%29&dashCommentUrn=urn%3Ali%3Afsd_comment%3A%287409399062061301760%2Curn%3Ali%3Aactivity%3A7402408145135800322%29
⁽⁴⁾ 🌐 https://archive.org/details/becoming-a-graphic-and-digital-designer-pdfdrive/page/n10/mode/1up
⁽⁵⁾ 🌐 https://shapeofdesignbook.com/chapters/10-gifts-and-giving
Entri ini diterbitkan silang dari LinkedIn dan tersedia pula dalam versi bahasa Inggris.
(sua)