BDSPop.
Pagi hari ini saya menemani istri belanja bahan masakan, kemudian menghinggapi salah satu toko swalayan yang bertengger di sisi jalan pada arah pulang. Saat membuka pintu masuk, seketika segera terdengar alunan musik yang amat sangat akrab di telinga saya pada era peralihan antara sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Lagu dari salah satu band kontingen britpop yang kini sudah mendapat gelar avant-garde, melampau genre awal yang melambungkan nama mereka across the pond.

Tak lain dan tak bukan adalah lagu «Let Down» milik Radiohead, yang konon belakangan ini juga sedang naik daun di jazirah media sosial, sama seperti halnya Deftones yang kini kabarnya banyak ditonton oleh orang-orang tua sekaligus anak-anak mereka pada saat sedang melangsungkan konser. Dunia memang aneh, history repeat itself, everything old is new again. Sebagai pendengar uzur Radiohead, sudah barang tentu saya seratus persen hafal setiap baris lirik lagu tersebut, akan tetapi ada perasaan yang tak biasa, aneh tapi nyata. Membuat tetiba saya merasa seperti Uki mantan gitaris Noah yang mahir dan menjadi terkenal berkat musik, namun akhirnya mengharamkan musik.
Serupa Rini Fatimah Jaelani a.k.a. Syahrini, lidah saya maju mundur cantik ganteng, takut jadi dosa dan auto masuk neraka kalau ikut menyenandungkan nada dan dakwah baitnya. Sebab sudah menjadi rahasia umum jika saat ini Radiohead sudah masuk dalam daftar pencarian orang musisi yang diboikot dalam rangka gerakan BDS. Untungnya iman dan taqwacore saya masih kokoh tak tertandingi bagai Semen Gresik, dan berhasil pulang tanpa terbuai oleh alunan yang berisiko membuat saya menjadi antek zionist. Terlalu berlebihan memang, merisaukan sebuah lagu hingga menyebabkan kegalauan dan kebimbangan instan dalam sejengkal time frame masa waktu kehidupan, namun bagaimanapun, kalau bukan kita, siapa lagi yang akan peduli—dan menolak lupa—akan nasib Palestina?
(sua)