blog.sua.ist sama dengan medium.com/jimmy-ofisia
Beberapa waktu waktu lalu bung Mahesa menyebut nama akun saya di kolom komentar saat nona Asri menerbitkan tautan tulisan Medium terbaru miliknya lewat story Instagram. Bung Mahesa kemudian bertanya apakah saya akan ikut serta lebih rajin menulis di Medium seperti nona Asri dan nona Annisa, yang dengan spontan langsung saja saya jawab dengan kalimat «never put your eggs in one basket.» Dalam hal ini, ‹basket› adalah kiasan untuk wadah menulis a.k.a. blogging platforms yang akan akan lebih ideal jika ada lebih dari satu. Karena, percayalah, di belantara internet ini, nothing lasts forever.

Medium memang blogging platform serius saya yang pertama, tahun usianya memang masih sekadar hitungan jari, lebih tepatnya sembilan jari, entri pertamanya terbit pada empat belas Maret dua ribu enam belas. Memang, harus saya akui, secara default performa departemen search engine optimization (SEO) Medium memang cukup lumayan. Bahkan ketika sudah lama dimutakhirkan, remah-remah tautan akun Medium saya masih saja ada yang muncul di halaman pertama search engine result page (SERP), mengalahkan blog terkini yang lebih sering dibelai dan lebih banyak jumlah entrinya.
Namun, setelah insiden kecil yang terjadi tidak lama lalu, kini Medium tidak lagi menarik seperti dahulu kala. Lesser ownability, atau apa lah, sebut saja begitu. No custom domain, no fun. «For real, for real,» begitulah Mahesa biasa menimpali saya. Akan tetapi saya tidak akan menjelma menjadi kacang yang lupa akan kulitnya, saya putuskan saya akan tetap memperhatikan akun Medium ini dan khususon mengisinya dengan entri berbahasa Inggris, yang diterjemahkan dari entri utama di blog.sua.ist. Lalu, apakah semua racauan berbahasa Indonesia saya di blog sebelah layak diterjemahkan ke bahasa Inggris? Oh, tentu saja, tidak. LLM manapun pasti bakal terbosan-bosan ketika memindainya nanti.
Entri ini tersedia pula dalam versi bahasa Inggris.
(sua)