Fouphoram.
Pada hari-hari ini kegiatan menonton film adalah sama dengan mengisi waktu-waktu terakhir sebelum mata terpejam saat malam dini hari. Sudah jarang sekali dapat menyelesaikan sebuah film dalam sekali jalan, konsumsi satu film kerap kali dibagi menjadi beberapa sesi, dengan interval antar sesi yang mustahil terprediksi, tergantung suasana hati, dan daya tarik daftar bahan bacaan di Instapaper dan Raindrop. Bahkan rekomendasi artikel di Google Discover saja sudah cukup membuat saya terokupasi hingga mulut mulai rajin menguap.

(sumber gambar kiri, tengah dan kanan)
Maka dari itu, seperti yang sudah lalu, saya akan menulis entri baru di blog ini ketika sudah berhasil menuntaskan tiga film. Sekadar sebagai pengingat momen, sekaligus wadah pengakomodasi ulasan super pendek, itupun jika sedang tidak malas mengulas, contohnya seperti saat ini. Tiga film yang telah berlabel khatam tersebut adalah «Fountain of Youth» oleh bung Guy Ritchie, «The Phoenician Scheme» oleh bung Wes Anderson, serta «Rams» oleh bung Gary Hustwit.
Komentar super singkat? Hmm... Ada signature style baru Guy Ritchie yang muncul beberapa kali pada adegan-adegan «Fountain of Youth,» saya sempat menceritakannya pula kepada bung Mahesa soal hal ini. Tanpa terlalu ambil pusing memvalidasi istilah sebenarnya, saya menyebutnya sebagai ‹360 degree rotation god's eye view.› Lalu, baru di—bagian paling akhir—film «The Phoenician Scheme» saya mendapati Wes Anderson dengan sengaja membuat setting yang tidak simetris rapi. Soal «Rams,» saya selalu menikmati pilihan musik pengiring film-film Gary Hustwit, apalagi kali ini khususon digarap secara keseluruhan oleh bung Brian Eno, hanya saja saya akhirnya memulai kebiasaan memutar ulang adegan-adegan berbahasa Jerman, hanya supaya saya dapat lebih mengerti sedikit demi sedikit terjemahannya, because time you enjoy wasting is not wasted.
(sua)