Guru Aini.

Duduk di kursi selasar, saya menyisip menyesap segelas kopi dingin. Tak perlu yang fancy macam Starbucks, cukup Good Day Freeze saset seharga tiga ribuan Rupiah yang dikolaborasikan dengan O’Shea Jackson ice cube. Saya memang bukan coffee aficionado macam bung Guna. Hari ini curah hujan cukup konstan dan awet, serenada gemericik rintik air setia mengiringi momen kesendirian saya.

(sumber gambar)

Saya telah tiba pada halaman-halaman terakhir ‹Guru Aini,› novel terakhir terkini Andrea Hirata, salah satu dari dua buku fisik yang sedang berada dalam daftar baca pribadi saat ini. Saya bukan pembaca—buku fisik—ulung, hanya menyiapkan dua buku fisik, serta satu atau dua publikasi berkala, untuk dibaca ketika sedang off the grid. Sebelum ‹Guru Aini› saya sudah lebih dahulu mulai membaca buku The Storytelling Book tulisan Anthony Tasgal, namun versi terjemahan yang rancu out of the box—belum lagi lelucon-lelucon Brits yang susah dicerna dalam Bahasa Indonesia—membuat saya lebih lambat dalam mengkhatamkannya.

Off the grid—dengan kata lain, maksud saya—adalah ketika baterai ponsel pintar maupun komputer jinjing saya habis, sehingga saya harus rehat dari memandangi kotak persegi berpendar yang jamak dikenal sebagai layar. Sebuah metode insidental pengelola screen time, yang mendadak menjadi masuk akal ketika di banyak penduduk dunia makin sadar akan digital wellbeing. «Zoom fatigue is real begitulah tajuk berita yang sedang hype belakangan ini, pasca para peneliti dari Stanford Virtual Human Interaction Lab menerbitkan hasil penelitian mereka.

‹Guru Aini› adalah prekuel dari novel ‹Orang-Orang Biasa.› Judul novel yang kedua sempat membuat saya pusing akibat alur waktu yang rumit. ‹OOB› berisi karakter dan setting lokasi cerita yang lebih banyak, ketimbang konflik cerita pada ‹Guru Aini› yang berorbit di seputar karakter Desi Istiqomah a.k.a ‹Ibu Guru Desi Mal›, serta Nuraini binti Syafarudin a.k.a. ‹Aini Cita-Cita Dokter.›

Semenjak empat judul novel pertamanya, yang saling bersambung dalam tetralogi ‹Laskar Pelangi,› Andrea Hirata sudah kerap kali menyentil kondisi pendidikan di tanah air beta ini secara implicit. Namun pada novel ‹Guru Aini› Andrea Hirata seakan menyampaikan kritiknya secara explicit pada bab-bab terakhir, ketika karakter Aini telah berhasil lulus ujian masuk fakultas Kedokteran, namun bernasib apes dan tak berhasil mendapatkan keringanan biaya, hingga terpaksa kembali berlayar pulang kampung lalu berakhir menjadi pelayan warung kopi.

«Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa …,» begitulah kura-kura bunyi paragraf Pembukaan UUD 1945 Republik Indonesia. Lalu dilanjutkan dengan «… pemerintah negara Indonesia … mencerdaskan kehidupan bangsa,» bunyi potongan—beberapa—paragraf setelahnya. Akan tetapi, Aini yang selalu disemangati menaklukkan hantu matematika oleh Guru Desi sepanjang masa pendidikan SMA, tetap saja berakhir tak berdaya ketika dibenturkan dengan keadaan pahit yang gagal diatasi oleh negara, yakni perkara UUD a.k.a ‹Ujung-Ujungnya Duit.› Untungnya, pola pikir lateral ‹Gerombolan 9› membuat nasib Aini tidak apes-apes amat di novel sekuelnya.

Pada momen langka seperti inilah, saya baru membuka situs Goodreads, login, lalu menambahkan entri di rak buku digital saya, menandainya sebagai ‹Read.› Ngomong-ngomong, beberapa minggu lalu saya baru tahu kalau Goodreads sudah jadi milik Amazon, lewat sebuah tulisan Medium berjudul Almost Everything About Goodreads Is Broken.› Meski Amazon telah banyak berinovasi di pelbagai bidang, Goodreads tetap stagnan dan semakin outdated selama dua belas tahun salah asuhan Jeff Bezos.

Kabarnya tak lama lagi Jeff Bezos akan turun dari kursi CEO Amazon, barangkali demi mengalihkan fokus pada Blue Origin, perusahaan calon pengembara angkasa swasta saingan utama SpaceX. Entah bualan tak berdasar atau optimisme tingkat tinggi, konon Elon Musk akan mendaratkan manusia di Mars pada tahun 2026. Keyakinan saya adalah, dua orang yang biasa saling salip-menyalip dalam urutan daftar orang terkaya di dunia ini bakal tak mau kalah bersaing dalam balapan menuju Mars. Pada saat itu tiba, ketika roket Blue Origin telah berhasil menjejak pada permukaan tanah merah Mars, pasca melakukan manuver pendaratan yang responsif, semoga layout situs Goodreads juga sudah dibikin responsif.

(sua)