Guna (Part I).

Pada hari Minggu tanggal 14 Februari 2021 kemarin, seorang kawan lama mengirimi saya sebuah tautan artikel. Kawan saya yang satu ini benar-benar ‹edisi lama› sungguhan, sebab telah kenal sejak zaman ketika saya masih sering naik bemo. Artikel tersebut bertajuk «Keren! Font Film Netflix ‹Space Sweepers› Ternyata Buatan Orang Indonesia ditulis oleh nona Siti Nur Arifa, yang pada halaman redaksi situs uzone.id tercatat sebagai staf bagian social media.

Selain saling umpat-mengumpat, kegiatan kirim-mengirim tautan ini sudah lumrah terjadi antara kami berdua lewat pelbagai aplikasi penunjang komunikasi elektronik masa kini. Mulai dari Facebook Messenger, Instagram, hingga WhatsApp. Selain cabang-cabang bisnis bung Zuckerberg tersebut, lewat surel dan Google Talk pun juga pernah. Kecuali Friendster, karena pada masa kejayaan Friendster kami masih bisa saling umpat-mengumpat bertatap muka secara langsung.

Pada umumnya, motif utama prima causa kawan lama saya ini mengirim tautan adalah demi memamerkan mengabarkan salah satu karya tulis jurnalistik dari sejumlah kanal media penerbitan digital, yang rerata merupakan subsidiary dari atau terafiliasi dengan sebuah raksasa penerbitan—analog—nasional yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur.

Agar lebih ringkas serta mencegah saya lelah mengetik, mulai dari paragraf ini saya akan berhenti menyebut yang bersangkutan sebagai ‹kawan lama.› Selain itu juga agar para pembaca yang budiman tidak salah mengira beliau sebagai Kuncoro Wibowo, tokoh kunci dibalik PT. Kawan Lama Sejahtera. Sebab sejatinya beliau memiliki nama lahir yang amat sangat unik, yakni Gunawan Sutanto. Sekali lagi, agar lebih ringkas, selanjutnya sebut saja Guna.

(sumber gambar)

Sudah barang tentu, bagian akhir pada paragraf diatas adalah sebuah bentuk komedi satir. Bahkan bung Guna yang melek SEO saja menganjurkan orang untuk menggunakan kata kunci «Jurnalis Jawa Pos» ketika googling, alih-alih menggunakan nama lengkap pemberian ayahanda dan ibunda tercinta. Tak ubahnya guyonan à la murid Sekolah Dasar, dulu saya biasa menggunakan nama Yth. Bpk. beliau sebagai bahan olok-olok, namun hari ini saya akan berusaha untuk menjaga lisan tulisan meski bukan bulan puasa. Tadinya ana hendak menulis sedang fuasa Senin-Kamis, tafi Baim ana takut dosa.

(bersambung ke ‹Part II›)

(sua)