Skip to main content

Command Palette

Search for a command to run...

Iduladha.

Updated

Tanggal 6 Juni 2025 Masehi adalah libur nasional memperingati Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah. Pada tanggal ini pula, saya baru mengetahui dan menemukan perdebatan warganet soal tata cara penulisannya yang salah, sebab ternyata menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ejaan yang benar adalah ‹Iduladha› tanpa spasi, bukan ‹Idul Adha› dengan spasi seperti pada kalimat pertama paragraf ini.

Bersamaan dengan hari dimana banyak sapi dan kambing berubah wujud menjadi serupa kepingan dadu, Turnstile merilis album terbaru mereka, empat tahun setelah gebrakan fenomenal ‹Glow On› di tahun 2021. «Hari ini Turnstile rilis album baru,» ucap saya kepada istri saat ia menaiki kendaraan seusai kami makan malam soto ayam di sudut sebuah perempatan jalan.

Ia kemudian menanggapi dengan bertanya apakah benar Turnstile adalah band yang lagunya sering saya putar dan pada akhirnya dia ia sering dengarkan pula, sambil menyenandungkan penggalan nada lagu ‹Mystery,› salah satu track Turnstile yang heavy rotation di playlist pribadi saya, dan biasa diputar dengan volume lumayan nyaring lewat sebuah sepiker bluetooth. Omong-omong, sensasi makan malam soto ayam menjadi lebih istimewa ketimbang biasanya, saat udara sekitar banyak dihiasi oleh aroma barbeque daging sapi dan kambing, yang tidak terlalu digemari oleh kami berdua.

(sumber gambar)

Semenjak mendengarkan single pertama ‹Never Enough› yang juga menjadi judul album baru mereka, saya sudah berfirasat bahwa album ini akan semakin membuat para penjaga gerbang old school hardcore semakin pissed off, gegara saking banyaknya pencampur adukan berbagai genre dalam satu album, yang seolah tampak seperti sengaja selling out lewat catchy tunes yang radio friendly, padahal sejatinya bung Brendan Yates cum suis hanya sedang melakukan eksplorasi sonic.

Saat masih berada di atas kendaraan pada perjalanan arah pulang, saya sampaikan kepada istri bahwa malam ini—setelah mendengarkan beberapa single yang telah dirilis sebelumnya—saya akan melahap tuntas semua track dalam album berdurasi kurang lebih 45 menit tersebut. Sambil tengkurap di tengah sebuah ruang bercahaya temaram, dengan kedua telinga disumpal sepasang TWS berwarna putih, saya memejamkan mata dan mencoba menikmati mencermati suguhan pemuda-pemudi asal kota Baltimore itu.

Beberapa puluh menit berlalu, meski saya tidak sampai pissed off ala para penjaga gerbang, dapat saya simpulkan bahwa sejauh ini lagu ‹Never Enough› masih menjadi yang terbaik diantara seluruh track yang ada di album tersebut. Sisanya memang tidak mengecewakan, hanya saja kurang memuaskan alias kurang sesuai ekspektasi saya. Jika boleh diibaratkan lewat sebuah pengandaian sederhana, terlalu banyak liukan roller coaster ride pada urutan daftar lagunya. Mungkin saya agak berlebihan, tapi dapat Anda coba bayangkan apabila seluruh lagu dalam album Radiohead yang berjudul ‹OK Computer› memiliki komposisi sama seperti lagu ‹Paranoid Android› yang dipenuhi banyak section dengan pelbagai tempo yang tidak constant sepanjang durasi.

Akan tetapi, apalah artinya, siapa saya dan apa hak saya untuk menghakimi. Turnstile adalah Turnstile, hardcore adalah hardcore, dan bung Brendan punya kebebasan penuh untuk melontarkan cium jauh kepada status quo. Ya, betul, saya memang secara khusus menyebut nama beliau karena pada praktiknya memang beliau-lah yang memilki andil terbesar pada album ini, mulai dari producer, vocalist, pemain keyboard dan synthesizer, hingga director. Fun fact, bung Brendan lebih dahulu menyutradarai sejumlah video musik Paramore , sebelum nona Hayley Williams menjadi additional vocalist di lagu ‹Seein’ Stars.›

Jika saja saya diizinkan untuk berandai-andai dan menaruh harapan, saya akan berharap bung Brendan Yates mempertimbangkan format album double disc, dimana disc pertama diisi daftar lagu hardcore yang tradisional, sedangkan disc kedua diisi daftar lagu hardcore yang eksperimental. Sengaja dipisah supaya sang pendengar bisa bebas memilih diantara keduanya, antara mode liar sarat breakdown hasil kombinasi drum, bass dan guitar, serta mode dugem kalem hasil kombinasi keyboard dan synth. Sebab, mustahil berharap sang pendengar—pada khususnya saya—dapat menjadi liar dan kalem sekaligus dalam satu waktu ketika sedang mendengarkan sebuah lagu.

(sumber gambar)

Baiklah, sepertinya cukup sampai disini saja racauan saya. Barangkali kepompong album ‹Never Enough› dapat berubah menjadi mahakarya paripurna ketika sudah menjelma menjadi kupu-kupu film ‹Never Enough› yang—tak lain dan tak bukan—juga disutradarai oleh bung Brendan serta ditemani oleh bung Pat McCrory. Labeled as ‹a 14-song visual album,› I personally can’t wait to see it, meskipun beberapa adegannya sudah mereka tease lewat sejumlah video musik singles yang sudah dirilis sebelumnya.

(sua)