Instemp.

Hal pertama yang segera saya lakukan seusai merampungkan pengaturan blog ini adalah mendaftarkan sebuah akun baru—dengan username @sua.ist—di Instagram, sebab saat ini pada kanal media sosial itulah kami berdua paling lumayan sering aktif, atau setidaknya bisa dibilang lebih aktif ketimbang Facebook atau Twitter. Istri saya bahkan enggan membuang waktunya untuk mendaftarkan akun Twitter sendiri, alih-alih ia sekadar menggunakan username saya untuk login.

Kelebihan utama yang membuat Instagram unggul IMHO adalah kesederhanaannya, dimana pengguna hanya disuguhi sejumlah fitur yang terbatas, dan pengguna tidak diizinkan mencantumkan tautan yang berpotensi menjadi outbound link. Mayoritas pengguna akan tetap berada dalam aplikasi Instagram hingga mereka dengan sengaja menekan tautan pada sebuah iklan linimasa, sebuah story yang dapat di swipe up, atau sebuah link in bio.

Steve Krug pasti bangga karena Instagram memungkinkan para penggunanya mengabiskan waktu mereka dalam buaian infinite scroll tanpa perlu banyak berpikir, deretan gambar-gambar dalam susunan vertikal satu atau tiga kolom dapat seketika berubah menjadi candu jika tidak dibatasi lewat pengaturan screen time. Jika «a picture is worth a thousand words,» maka sebuah gambar di Instagram dapat bernilai ribuan milidetik, atau bahkan lebih.

Dalam zaman modern yang kian bergelimang constant partial attention dan attention deficit short attention span ini, siapa yang tidak tertarik mengkonsumsi informasi dalam bentuk gambar, alih-alih dalam bentuk teks? Sehingga—mau tidak mau—saya terpaksa menerjemahkan bahasa teks menjadi bahasa visual demi dapat melakukan content recycle lewat konten Instagram.

Saya menyiapkan sebuah templat sederhana dengan rasio 2:1 yang kemudian dapat dibagi menjadi dua bagian, agar dapat di swipe secara horizontal pada sebuah carousel post. Karena tautan pada caption Instagram tak akan pernah dapat di klik, dan karena saya juga enggan ‹high effort, low impact› untuk mengelola link in bio, maka saya putuskan untuk live with it dan menerapkan jurus link in BRC.

Pada kloter pertama, saya telah menyiapkan tiga puluh pasang gambar untuk diterbitkan secara otomatis, tepatnya dua kali dalam seminggu, tiap ash wednesday dan black sabbath. Itupun masih tersisa sepertiga bagian, karena batasan fitur penjadwalan advanced pada Creator Studio. Usai dijadwalkan, saya dapat membiarkan Instagram berjalan auto pilot hingga tiga dua bulan setelahnya. Untuk sementara waktu saat ini, workflow ini IMHO lumayan ‹low effort› lah

(bersambung ke ‹Part II›)

(sua)