Instemp (Part II).

Pada entri yang bertajuk Instemp› di bulan Maret lalu saya telah menceritakan soal hikayat content recycle yang bermuara di Instagram, akan tetapi sebenarnya petualangannya tidak sekadar berhenti di situ saja.

(akun sua.ist di Pinterest, Medium dan WordPress)

Kumpulan gambar tangkapan layar dengan rasio 2:1 tersebut sebenarnya terus melanjutkan perjalanan melanglang buana mengarungi jagad internet. Baiklah, saya akui kata-kata barusan lumayan terdengar hiperbolis. Ndhak apa-apa kan ya? Kan yang penting mbois.

«Tiada kata nihilitas, bahkan batu pun diperas,» begitulah kiranya penggalan lirik lagu Komunal berjudul Praktika Bisnis Karnivora yang ditulis oleh bung Doddy Hamson sang multitalenta. Jadi, selama masih bisa dilanjutkan siklus daur ulangnya, maka terus saya peraslah itu kumpulan gambar hingga tetes terakhir.

Singkat cerita, gambar-gambar berformat landscape tersebut akhirnya saya terbitkan silang ulang juga ke sejumlah webapp situs lain, yakni Pinterest, Medium, dan WordPress. Dari ketiganya, hanya Pinterest yang mendukung otomatisasi penuh, yang mampu membuat entri baru dari umpan RSS blog ini. Maka dari itu, dari jauh-jauh hari sudah saya rencanakan untuk membatasi kegiatan repost secara manual di Medium dan WordPress hanya hingga seratus entri.

Namun, terakhir saya repost di Medium, saya mendapati semacam peringatan yang memberitahukan bahwa gambar-gambar tersebut dinilai sebagai salah satu hal yang tidak diperbolehkan, atau melanggar salah satu dari daftar peraturan penggunaan Medium yang tertera di halaman ini, yang salah satu klausulnya berbunyi sebagai berikut:

Images functioning as third-party ads are not allowed. Inline images or embeds that link out and function as banner ads for third-party brands are not allowed.

Sebuah party pooper yang kian membuat Medium menjadi fun no more. Barangkali memang bung Ev Williams sudah cukup fed up karena platform unik prakarsanya ini terlalu sering di abuse oleh pengguna-pengguna tak bertanggung jawab. Baiklah, seperti saya, misalnya.

Jadi, barangkali saja, setelah ini, meski belum sampai seratus entri, saya akan menyudahi kegiatan repost di Medium, bahkan mungkin demikian juga dengan WordPress, tapi ya masih mungkin, tergantung seberapa banyak energi yang tersisa untuk menjaga konsistensi. Karena bagaimanapun juga, hal itulah yang paling berat di antara segalanya.

(sua)