Kartolo.
Juni 2025 lalu suami saya mengunjungi Balai Pemuda entah saya kurang paham dalam rangka kegiatan apa, yang jelas kertarikannya tak jauh-jauh dari urusan design beserta aktivitas turunannya.
Kala itu dia mengirimkan gambar jadwal hari ketiga rangkaian acara yang dimulai 13-15 Juni 2025 dalam gambar tersebut tertulis "Kartolo", sontak dengan senyum mengembang saya membalas "besok nonton Kartolo?" dan dibalas dengan "entah diikuti dengan emoticon khas mengangkat bahu". Setelah menjalani kebersamaan dalam ikatan pernikahan yang sudah lebih dari satu dasawarsa maka saya paham betul kalau kiriman gambar tersebut akan jadi wacana semata :D
"Kartolo" nama yang sangat tidak asing bagi kami, ludruk legendaris asal Surabaya yang terkenal dengan kidung Jula-Juli yang liriknya berbentuk parikan/pantun berima yang sarat sekali akan pesan moral tentang kehidupan sosial yang dikemas dalam bentuk humor, mungkin hal ini pula yang membuat saya sangat mengemari Kartolo karena selain bisa memicu gelak tawa namun juga mendapat bonus satir kehidupan bahkan jauh sebelum stand up comedy marak saya rasa Kartolo adalah sebuah pioneer dalam hal rosting-merosting.
Selang tiga bulan berlalu bak kesempatan kedua yang tidak boleh disia-siakan, pada 13 September 2025 jalan utama menuju kediaman kami ditutup dan sebuah panggung, didirikan untuk pagelaran wayang kulit dalam rangka selamatan bersih desa, saya bukan penggemar wayang kulit namun yang menarik bagi kami saat itu adalah kehadiran Kartolo yang muncul di sesi akhir acara pagelaran wayang kulit, maka dengan tekad melawan kantuk dan kekuatan otot betis (acara gratis maka berburu kursi tempat duduk niscaya adalah kemewahan) malam itu kami berdua dengan setia menunggu sang maestro ludruk Suroboyo berbagi panggung dengan dalang dan sinden serta penabuh gamelan.
Gambaran saya mengenai sosok Kartolo tak pernah berubah, humoris sekaligus satir dan ceplas ceplos, malam itu dia naik panggung bersama Kastini dan Dewi Triyani yang tak lain adalah istri dan putri bungsunya. Malam itu pula kami mengetahui fakta bahwa usia Kartolo sama dengan usia republik ini yaitu delapan puluh tahun, ya sebuah pencapaian luar biasa masih bisa dianugrahi umur panjang dan berkarya.
Namun layaknya semua hal dalam dunia ini yang ujungnya adalah ketiadaan meskipun dikarunia umur panjang, kondisi fisik Kartolo berada dalam fase tak terelakkan, kemampuan berjalan yang kian melambat dan tertatih, nafas yang mulai bernegoisasi dengan ritme irama jantung dan paru yang saling berkejar-kejaran dengan oksigen dan juga volume suara yang kerap kali bergetar saat mencapai pitch maksimal, entah sampai kapan tidak ada yang tahu Kartolo bisa hadir menghibur penggemarnya.
Setali tiga uang dengan tulisan suami saya dengan judul yang sama dalam blog ini, bagi kami Basman dan Sapari adalah ludrukis legendaris idola kami. Dulu ketika weekend tiba suami saya kerap kali memutar berkas audio rekaman sandiwara radio dengan beragam alur cerita yang selalu out of the box yang membuat saya terpingkal-pingkal dan merasa menjadi arek Suroboyo seutuhnya hanya karena masih bisa mendengarkan Kartolo cum suis berkelar. Kini baik Basman dan Sapari sudah lama mangkat, namun untuk Kartolo semoga masih dapat selama mungkin maujud.
(ist)