Skip to main content

Command Palette

Search for a command to run...

Memaknai Ulang "Hijrah".

Updated

“Sudah saatnya kita menambah referensi hijrah kita, supaya ndak melulu riba, jubah dan burqa.”

Beberapa tahun belakangan ini, saya kerap kali merasa tak nyaman, tergabung dalam satu group Whatsapp yang salah satu anggotanya sedang terobsesi oleh kata hijrah.

Dia yang sedang terobsesi berlagak serupa politikus yang berusaha mendulang suara, kampanye sporadis terjadwal kami dapatkan cuma-cuma.

Dalam beberapa tempo dia muncul bersamaan dengan hadist soal riba, menuntut semua kolega yang bekerja di bank segera mengakhiri masa baktinya, yang sudah berjilbab pun masih kena damprat pakai dalil syar'i, apalagi yang belum, habis licin tandas dilahap macam alap-alap.

Dalam pemahaman saya, semakin seseorang mumpuni dalam ilmu agama, makin adem pula kita dibuatnya. Tapi kali ini kok lain ya? Saya makin merasa gerah luar biasa.

Dihadapannya saya merasa masuk dalam golongan manusia nirhidayah, memori akan betapa indahnya belajar ngaji dan beragama seakan dikepras habis oleh rentetan hadist soal haram, dosa, dan neraka. Sungguh mengerikan. Membayangkan seolah-olah saya pre-order kavling neraka.

Entah kapan dan siapa yang memulai, soal-menyoal hijrah terstandarisasi lewat pilihan pekerjaan, cara berpakaian dan ukuran panjang kerudung. Merasa tidak terima, sayapun aktif mencari perkara tandingan.

Di hari-hari dimana agama layaknya komoditi yang terakomodir lewat pilihan ayat-ayat, saya merasa kita sudah terlampau hanyut dalam penyeragaman pilihan, sehingga sungguh-sungguh bias dalam memaknai hijrah secara substantif.

Begini maksud saya. Jika kita menarik batas bahwasannya hijrah adalah berpindah kepada sesuatu yang lebih baik. Maka pertanyaan selanjutnya, seberapa jauh kah kita memaknai hijrah, apakah cukup sekedar mengubah penampilan dan mengganti pekerjaan? Ataukah menawarkan pelbagai kemungkinan sehingga kebaikan kita tidak berkutat pada masalah syar'i dan riba.

Di lingkungan tempat tinggal saya contohnya, gambaran hijrah termaktub sempurna pada sosok yang kerap kami panggil abah dan umi, kenapa sempurna? Karena keduanya mumpuni dalam standar kelayakan berpakaian syar'i dan pekerjaan berniaga ala Rasul.

Perkara muncul tiap kali PRT-nya tergopoh-gopoh berusaha menuntaskan apa yang dititahkannya. Seakan 24 jam, 7 hari hidup hanya untuk melayani. Ini hanya contoh lho ya, jangan digebyah uyah (sama rata) semua abah dan umi tabiatnya seperti itu.

Tapi kita juga tidak mungkin mengingkari bahwa praktik-praktik seperti itu, jamak kita temui bukan?

Hampir seluruh permasalahan yang dilarang dalam Islam selalu bersinggungan dengan aspek sosial. Praktik-praktik tersebut dilarang tentu saja karena mengandung unsur eksploitatif yang berdampak menyengsarakan, menyusahkan kelompok tertentu (marjinal).

Dalam wacana dunia kapitalis global hari ini, yang sarat akan eksploitasi, bagi saya hijrah akan terasa so yesterday jika kita hanya bergelut di seputaran mencari alternatif pekerjaan yang semata-mata meniadakan riba.

Bagaimana jika kita memilih menu combo double, selain riba libas juga praktik eksploitatifnya!

Gencar dan kritislah juga ketika kita melihat praktik-praktik tersebut, masukkan hal itu dalam agenda kampanye hijrah.

Ndak usah jauh-jauh hijrahnya, mulailah dari yang terdekat. Pekerja Rumah Tangga (PRT) misalnya, sudahkah kita memberikan batasan waktu yang jelas akan jam kerja mereka? Jangan mentang-mentang kita bayar gajinya, perut kita lapar tengah malam, gedor kamar PRT buat nyuruh bikin mie instan. Atau sudahkah kita bijak menimbang beban pekerjaan dengan upah yang kita berikan? Jangan hanya kewajiban saja yang bertumpuk tapi abai akan hak PRT.

Atau jika anda-anda sekalian adalah pengampu kebijakan, direktur korporasi, manager bank, atau apapun jabatan anda, alih-alih berhenti bekerja dengan alasan riba, lebih baik gunakan kewenangan anda untuk menciptakan kebijakan, peraturan dan segala turunannya berdasar atas kesejahteraan pekerja.

Siapa pun dan apapun pekerjaan kita, selama kita masih berpijak di bumi yang sama, kita pun memiliki jatah waktu yang sama dalam satu rotasi bumi yaitu 24 jam.

Dalam 24 jam tersebut idealnya terbagi atas 8 jam kerja, 8 jam berkehidupan sosial, 8 jam istirahat. Jadi jika kita mendapati kenyataan yang tidak ideal, jangan-jangan secara tidak sengaja kita melakukan tindakan eksploitatif.

Tenang dan jangan salah pengertian, saya tidak hendak menyetujui praktek riba lho ya, tidak juga anti pakaian syar'i. Seperti yang saya sampaikan diatas saya menawarkan perkara tandingan, supaya atmosfer hijrah lebih bisa punya banyak wajah.

Tapi perlu diingat juga, jika sudah punya banyak wajah dan rupa, jangan kebangetan kalau mau kampanye, apalagi mengeksploitasi agama lewat ayat dan dalil-dalilnya.

(ist)