Primusthehiv.
«Private Music» muncul tiba-tiba bagaikan blitzkrieg serangan kilat di bulan Agustus dua ribu dua puluh lima saat saya sedang terokupasi oleh deretan single-single yang dirilis bertahap oleh The Hives sejak April Mop, pula sedang teralihkan oleh beraneka ragam polah tingkah bung Howlin' Pelle Almqvist yang sudah bisa dipastikan bagai wujud perwakilan jiwa dan sikap rock and roll yang maha paripurna. Ketika The Hives sedang mengulur mengisi waktu dengan melontarkan empat single secara berkala sebelum merilis «The Hives Forever Forever the Hives,» Deftones dengan pelit tanpa banyak basa-basi hanya membagikan dua single saja sebelum merilis album mereka secara resmi.

(sumber gambar kiri dan kanan)
Verdict? Meskipun bung Nick Raskulinecz sudah berjasa mengangkat harkat Deftones menuju sebuah kesempurnaan sonik yang pasti akan membuat telinga para audiophile gembira, saya adalah seorang manusia keras kepala zaman dahulu yang masih enggan move on beranjak dari empat album pertama dalam diskografi mereka yang secara beruntun diproduseri oleh bung Terry Date.
Meski banyak kritikus musik yang menilai «Private Music» adalah album Deftones yang cukup komprehensif dengan kehadiran bung Chino Moreno versi old school yang kembali mengaktifkan mode rapping walau hanya untuk waktu yang singkat, serta bung Stephen Carpenter yang semakin terus terang dalam menunjukkan kecintaannya pada Meshuggah, namun dinamika yang terlalu progresif ini terlalu berlebihan untuk seorang manusia sederhana seperti saya, barangkali memang julukan «the Radiohead of metal» adalah sebuah berkah sekaligus sebuah kutukan.
Meminjam judul film dokumenter «Generasi Menolak Tua» milik Seringai, serta sepotong lirik lagu «Manusia Baja» milik Komunal yang berbunyi «rock and roll telah mati, kami yang menyelamatkan.» Kali ini saya sepenuhnya berpikiran sama dengan mayoritas kritikus musik di jagat daring, bahwa The Hives adalah generasi menolak tua yang menyelamatkan rock and roll—atau garage rock, lebih tepatnya—dari kematian. Meskipun bagi telinga orang awam musik The Hives barangkali terdengar begitu-begitu saja sejak album pertama mereka, album terkini dengan judul panjang terpanjang ini justru amat sangat layak direkomendasikan saya rekomendasikan kepada siapapun yang sedang terbosan-bosan mendengarkan musik kekinian yang terdengar begitu-begitu saja.
Memang sudah tradisi The Hives untuk merilis album dengan durasi pendek—rerata sekitar tiga puluh menit—tapi saya rasa album terbaru mereka ini terlalu pendek untuk judul yang panjang, apalagi mengingat jeda antar album yang cukup panjang antara tahun 2012 dan 2023. Hal menarik yang saya dapati adalah adanya—lagi—keterlibatan bung Josh Homme yang membuat sebagian track gitar pada beberapa lagu membuat saya agak déjà vu seperti mendengarkan Queens Of The Stone Age, serta yang lebih mengejutkan adalah keterlibatan bung Mike D, selain bung Pelle Gunnerfeldt sebagai produser utama.
(sua)