Rumah Baru.

Saya berkali-kali salah dalam melafalkan kata asphyxiates, hingga beberapa detik kemudian suami saya menimpali «ph dilafalkan sama seperti saat kita mengucap fotografi atau fisika.»

Agar lebih afdal saya pun membuka aplikasi kamus yang terinstall dalam gawai saya dan menekan ikon speaker, setelah audio berbunyi dengan spontan saya menganggukkan kepala. Namun saya juga iseng, penasaran apa yang akan saya temukan jika saya menyalin tempel kata tersebut ke mesin pencarian. Apakah sesederhana sesingkat terjemahan dalam bahasa Indonesia yang hanya tersaji dalam dua kata yaitu sesak nafas?

Ulalala... taraaaa...

Sesuai dugaan, penjelasan yang amat sangat tidak hemat kata 😁. Saya membaca keras-keras terjemahan tersebut, dan pada kata choking saya dengan sengaja batuk-batuk yang entah apa tujuannya, mungkin kala itu saya berpikir agar memperoleh efek dramatis yang paripurna 😂.

Mendengar itu suami saya yang berdiri tidak lebih dari dua meter dari saya berkomentar «yo ndak usah nggawe sound effect rek,» lalu kami kompak tertawa bersama. Sungguh kadang betapa kami merasa begitu terberkati dengan sejenak menertawakan ketololan kami.

Dan tulisan panjang nirfaedah ini saya persembahkan sebagai upaya untuk menjawab protes suami atas absennya tulisan-tulisan saya pada blog suadotist.

(sumber gambar)

Semoga dalam kesempatan-kesempatan lain, dengungan-dengungan protesnya bisa memantik saya agar lebih produktif.

Selama pandemi ini saya mengamini sebuah mantra bahwa tidak perlu usaha yang muluk untuk menjadi berarti, cukupkan diri rebahan dan berharap corona world tour ini cepat berakhir. Tapi sayang sungguh sayang nampaknya mantra itu kini tak lagi manjur dan bertaji.

Sungguh saya memerlukan mantra tandingan dan hingga tulisan ini ditulis, saya belum juga mendapatkan mantra pengganti yang pas di kantong di hati. Di bulan Ramadhan nan penuh berkah ini jika kalian sengaja maupun tidak membaca racauan saya, bolehlah kiranya berurun saran agar saya segera mendapatkan mantra baru 😉.

Seperti halnya di bulan penuh berkah ini dibukakan pintu lebar-lebar bagi segala ampunan, maka kami pun membuka pintu dengan sangat luar biasa lebar untuk mengunjungi rumah digital kami (blog.sua.ist) dan berharap kalian tidak sungkan untuk meninggalkan jejak aksara dalam kolom komentar (sekalian tuliskan alternatif mantra buat saya ya).

(ist)