Selamat Natal.

Seorang kawan mengingatkan saya untuk bertoleransi dengan benar, sambil mengernyitkan dahi saya mencoba memahami kata ‹benar› versi yang ia amini.

Setelah meraba-raba apakah gerangan yang dia maksud, pada akhirnya saya paham ternyata ini menyoal soal halal haram tahunan terkait ucapan selamat natal.

(sumber gambar)

Bagi saya pribadi terkadang apa yang kita yakini menurut agama saya, seakan aneh bahkan tidak masuk akal bagi pemeluk agama lain begitu pula sebaliknya. Namun hal tersebut tidak lantas menjadi suatu pembenaran atas penasbihan agama kita lebih baik atau lebih benar dari yang lain.

Toleransi adalah kata banal yang kerap kita rujuki, namun juga seringkali gagal kita pahami.

Beragama dan memilih agama adalah perkara keyakinan.

Serupa dengan kebenaran, keyakinan tidaklah pernah tunggal, maka dari yang jamak itu tidaklah elok jika kita memaksa menjadikannya tunggal.

Saat ini biarlah saya memilih kebenaran yang saya yakini dan mengucapkan rangkaian kata yang jamak pula kita temui di penghujung akhir tahun:

Selamat Natal,
Merry Christmas,
Feliz Navidad,
Feliz Natal,
Joyeux Noël,
Vrolijk Kerstfeest,
Meri kurisumasu,
bagi segenap kerabat dan handai taulan yang merayakan.

Kepada saudara seiman yang tak lelah mengingatkan atas perdebatan tahunan, saya ucapkan banyak terima kasih karena tak lelah mengingatkan saya beserta segenap dalil yang melingkupi.

Namun sekali lagi ijinkan saya untuk menjadi umat beragama yang juga memiliki hak untuk berdiplomasi. Agar tak berlarut-larut dalam perdebatan yang tiada bertepi, maka ijinkan pula saya menukil salah satu surat yang saya yakini.

Katakanlah, «Kamu tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kami kerjakan dan kami juga tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kamu kerjakan.» (QS Saba, 34:25).

Dan dengan segala kerendahan hati serta kekurangan disana-sini, biarlah bid'ah dan haram yang kau tudingkan padaku kini kelak akan ku pertanggung jawabkan dihadapan-Nya secara mandiri.

Terima kasih dan janganlah perbedaan ini membuatmu berhenti bertali kasih, karena sejatinya muamalah inilah yang merawat semesta untuk saling erat memeluk harmoni.

(tulisan ini diterbitkan silang dari Medium)

(ist)