Skip to main content

Command Palette

Search for a command to run...

Serakah.

Updated

Kami tidak sedang baik-baik saja, menghadapi pandemi ini cukup membuat energi kami kocar-kacir terutama menyoal urusan hulu hilir serta ketahanan kami terhadap arus ekonomi.

Neraca keuangan kami hampir mendekati defisit, perihal ini kami pun meresponnya dengan pelbagai ekspresi mulai dari sedih, kecewa, marah hingga canda tawa . Tetapi dari pelbagai ekspresi tersebut paling sering sih kami memilih lebih banyak tertawa. Menertawakan kekonyolan-kekonyolan yang kami perbuat demi menetralisir keadaan, bangkit perlahan meskipun tak jarang pula kami kembali terjatuh.

Entah berapa kali kami berbeda pendapat hingga berujung pada perselisihan, pasangan saya yang sejak lama terjangkit OCD (Obsessive Compulsive Disorder) mencatat tanggal semua kejadian saat perselisihan itu terjadi. Baginya akan lebih baik jika menyimpulkan sesuatu dengan ukuran yang jelas, jadi menurutnya dengan mencatat semua perselisihan yang telah kami lalui, dia bisa menghitung seberapa besar prosentase ketahanan kami dalam melalui segala drama dalam rangkaian tur keliling dunia si covid virus sialan ini.

Sebelum menarik kesimpulan itu kami berdua sepakat untuk tidak bias memaknai terlebih lagi menafikan keadaan bahwa kami tidak sedang baik-baik saja. Kami berupaya memvalidasi tanpa penyangkalan, jika perlu menangis maka kami akan menangis, jika harus marah maka kami akan marah, jika perlu berjeda maka kami akan mengambil jeda setelahnya kami saling membersamai untuk bangkit dan melangkah.

Saya adalah salah satu bagian dari berjuta orang yang kehilangan pekerjaan semenjak pandemi ini melanda, sebenarnya saat kali pertama menerima kabar saya harus berhenti bekerja rasanya campur aduk seperti blessing in disguise. Saya memang sudah sejak lama merencanakan akan mengakhiri masa tugas saya sebagai proletar sembari mengumpulkan keberanian untuk berganti haluan serta kemudi atas pekerjaan, hingga saat masa itu tiba saya memutuskan untuk benar-benar mengambil jeda panjang guna belajar hal-hal baru sebelum benar-benar berganti haluan pekerjaan. Sedangkan pasangan saya adalah seorang pekerja lepas desainer grafis yang membiasakan menyebut dirinya climate conscious graphic desainer, apa itu? ha ha ha lain kali mungkin akan saya jelaskan mengapa dia membiasakan dirinya dengan sebutan itu.

Dulu saya kesulitan menjelaskan jika ditanya apa pekerjaan pasangan saya, kenapa setiap hari tak terlihat berangkat ke kantor. Kala itu belum banyak orang paham apa itu pekerja lepas, beberapa dari mereka bahkan mengasihani saya karena bersuamikan seorang pengangguran 😂, namun semenjak pandemi ini saya cukup menjawabnya dengan tiga huruf yaitu WFH! Untuk pertama kalinya saya berterima kasih pada virus sialan ini karenanya saya menemukan jawaban singkat atas pertanyaan basa-basi orang-orang tertentu yang memiliki derajat kekepoan yang tinggi 😜.

Singkat cerita saat dirasa cukup waktu untuk belajar, tibalah saatnya kini masa mempraktikkan apa yang sudah saya pelajari. Namun tidak disangka dan dinyana saya oleng, terbujuk bahkan sangat terlena dengan suatu gerakan. Gerakan yang membuat saya terjangkit trigliserida tinggi serta kekakuan sendi, gerakan laknat  gulir atas, gulir bawah jempol pada gawai yang teramat sangat memicu kecemburuan deretan buku yang ada disamping tempat tidur saya maupun yang ada pada rak singgasananya.

Pasangan saya menyakinkan bahwa saya hanya perlu beradaptasi. Ritme kerja sebelumnya yang sudah rutin terjadwal nine to five kini tidak lagi berlaku, bahwa sayalah yang memegang kendali waktu, kapan akan produktif bekerja, kapan akan istirahat, kapan akan bersantai you are the boss imbuhnya, namun sambil berseringai dia menambahkan bahwa tidaklah mudah menjadi bos diri sendiri. Betul saja, saya menjadi lebih arogan bahkan terhadap diri saya sendiri, dengan sengaja menjebak diri dalam perpanjangan prokrastinasi lalu dengan mudah mencari alasan pembenaran (poor me).

Sampai pada suatu ketika perselisihan kami kembali terjadi, akan tetapi pasangan saya buru-buru menyampaikan disclaimer bahwa beda pendapat kali ini tidak akan dia catat sebagai perseteruan, kali ini aku berharap kita benar-benar berdiskusi dan berdialog dengan kepala dingin katanya. Saya membalas dengan mengerutkan dahi!

Dia memulai pertanyaan dengan mempertanyakan kesungguhan niat saya akan rencana yang telah kami sepakati bersama sebelumnya. Memaparkan dalam blue print sederhana segala kemungkinan lengkap dengan estimasti waktu beserta modal baik materiil maupun immateriil juga kemungkinan terburuk jika saya tidak segera mengakhiri masa prokrastinasi. Saya mendengarkan dengan cengar-cengir ingin protes tapi tidak dapat menemukan alasan yang tepat nan masuk akal untuk protes soal perpanjangan prokrastinasi 😁.

Pada akhirnya saya memintanya memberi saya waktu dan kesempatan untuk menyelesaikan masalah ini dengan diri saya sendiri, saya berkata padanya "Ada yang belum selesai terhadap diri saya, biarkan saya mencari tau dan menyelesaikannya" dan dia mengangguk tanda setuju, diskusi berakhir dengan PR yang saya minta sendiri.

Keesokan harinya saya melihat notifikasi whatsapp pada gawai pasangan saya, dia sedang mempersiapkan pertemuan daring dengan kolega lamanya. Saya bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bahas dan seketika bagai mendapat wangsit saya mendapatkan jawaban atas PR saya. Pasangan saya berkata "Jangan terlalu terburu-buru menanyakan bahkan menawarkan upah begitu besar pada saya, saya pun perlu waktu untuk mempelajari dan beradaptasi dengan kolam baru yang kamu tawarkan serta sejauh mana saya bisa menyelam, jangan-jangan yang kamu tawarkan terlalu besar atau bahkan terlalu sedikit" dan disambut gelegar suara tawa seseorang di seberang komputer jinjing yang ada didepannya.

Sepuluh tahun usia perkawinan kami dan kekaguman saya terhadapnya tetap sama, lelaki introvert yang saya nikahi yang kerap kali dianggap sombong karena saking pendiamnya tetaplah pribadi yang sederhana dan tidak serakah. Dalam keadaan neraca  ekonomi yang terancam resesi dia bisa saja menyebut sejumlah angka yang lumayan fantastis, namun dia memilih bijak dan penuh pertimbangan akan segala hal termasuk terhadap kemampuan dirinya sendiri.

Serakah adalah jawaban atas apa yang belum selesai pada diri saya. Saya ingin berbahagia akan tetapi rakus ingin segalanya baik-baik saja disaat memang semuanya tidak baik-baik saja, berusaha menyelam di kolam yang lebih besar dan dalam namun lalai akan kemampuan diri.

Jawaban telah saya temukan. Kini saya bersiap menerima soal-soal baru yang saya harapkan bisa menjawabnya dengan kesederhanaan, berproses dengan cara yang bisa membuat saya jatuh cinta namun tidak terobsesi olehnya.

(ist)