Fantenwra.

(sumber gambar satu, dua, tiga, dan empat)

Setelah entri terakhir yang berisi daftar film yang telah ditonton pada beberapa bulan yang lalu, hingga kini saya—dan istri—masih belum juga menumbuhkan keteguhan hati serta kekuatan mental untuk menonton mahakarya Bong Joon-ho yang berjudul «Parasite.»

Alih-alih, saya—dan istri—malah memilih menghabiskan waktu menonton sejumlah film lainnya yang tampak lebih mudah dicerna, tanpa perlu melibatkan kegiatan menekan tombol pause, lalu dilanjutkan dengan kontemplasi mendalam, sebelum akhirnya melanjutkan kembali dengan menekan tombol play. Seempuk apapun kursinya, semegah apapun sistem suaranya, hal sederhana semacam ini mustahil dapat dilakukan penonton non VVIP di bioskop.

Dua bagian pertama dari seri film «Fantastic Beast»—sebuah prekuel dari seri film «Harry Potter»—adalah pelipur lara pengobat rindu akan kisah dongeng jaminan mutu bikinan J.K. Rowling. Sedangkan «Tenet» tentunya adalah jamu mujarab pengasah pengacau otak bagi penonton masochist yang kecanduan alur cerita dengan laju waktu maju mundur cantik a la «Inception,» minus adegan-adegan hasil rendering tiga dimensi yang melawan hukum gravitasi.

Ketika pertama kali mendengar kabar bahwa Guy Ritchie akan kembali menyutradari sebuah film dengan tema heist, saya pikir saya akan kembali disuguhi dengan sajian gurih nan renyah hasil racikan Britania Raya bikinan Guy Ritchie sebelumnya. Tanpa perlu saya sebutkan judulnya, barangkali sudah banyak orang awam yang mengetahui sejumlah mahakarya Guy Ritchie sebelum hijrah across the pond. Namun rupanya saya salah, film heist berjudul «The Wrath Of Man» yang dibintangi—aktor langganan Guy Ritchie—Jason Statham ini alur yang lumayan njelimet dan tak mudah diterka hingga akhir cerita. Pengalaman menyutradarai dua sequel seri film «Sherlock Holmes» ada gunanya juga ternyata.

Sebagai disclaimer, buram entri ini ditulis jauh sebelum entri yang bertajuk «Darparfan,» jadi mohon maklum jika tampak seperti sebuah cerita kilas balik, a prequel of sort, kind of, yang akhirnya tetap diterbitkan sebagai late post, demi tetap menjaga bara api semangat «LodrapumoGanbatte kudasai!

(sua)