Menghitung Hari.
Serupa dua sisi mata uang, atau dua kutub bola dunia magnet, pula filosofi Cina Yin dan Yang, akan selalu ada dua hal yang saling berlawanan, antara yang positif dan negatif. Begitu pula hidup di bulan Agustus dua ribu dua puluh lima, yang di satu sisi dihiasi oleh bapak-bapak yang—meski sudah tidak lagi muda usia, namun—menolak tua dan memantik semangat positif dalam keseharian, di sisi lain dihiasi dinodai pula oleh hiruk pikuk kekacauan politik nasional yang sama-sama memantik semangat namun lebih ke arah negatif. Bulan Agustus kemarin warga negara dari berbagai kalangan usia saling menyuarakan dan/atau mengekspresikan kekesalan mereka terhadap segala hal yang dilakukan oleh perwakilan negara.
Kekecewaan banyak orang semakin terpicu dan meningkat secara drastis ketika seorang pemuda tak bersalah bernama bung Affan Kurniawan dilindas kendaraan taktis Brimob Polda Metro Jaya yang dikemudikan oleh bung Cosmas Kaju Gae, almarhum dinyatakan meninggal pada tanggal dua puluh delapan Agustus. Gelombang demonstrasi dan aksi solidaritas massa muncul di berbagai daerah Indonesia, dan seperti yang sudah dapat diprediksi, hampir semua berakhir dengan kericuhan.
«Lagu lama, kaset baru,» begitu saya biasa menyebutnya. Trik lama cipta kondisi—atau rekayasa situasi—dari era reformasi tahun sembilan puluh delapan kembali dipakai oleh oknum-oknum yang memang telah mendapatkan briefing untuk memprovokasi massa di lapangan. Sejumlah kediaman anggota DPR, bahkan kediaman ibu Sri Mulyani sang Menteri Keuangan pun tak lolos dari kegiatan penjarahan yang terorganisasi, seorang narasumber—salah satu pemuda penjarah bayaran—yang sempat diwawancari secara anonim mengisahkan bagaimana ia diberangkatkan dari Cimahi ke Jakarta untuk beraksi pada hari penjarahan bersama ratusan orang lainnya.
Wujud konkret dari aspirasi massa tertuang pada sejumlah poin yang bertajuk «17+8 Tuntutan Rakyat,» dengan tenggat paling akhir ditetapkan pada tanggal lima September. Seperti biasa dan sesuai perkiraan yang dikhawatirkan banyak orang, para penyelenggara negara akhirnya luput memenuhi tuntutan sesuai tenggat tersebut. Saya sebagai warga negara yang masih belum dapat turut serta secara luring di lapangan—sembari menghitung hari menuju tenggat—hanya bisa sebatas berpartisipasi secara daring lewat media digital, salah satunya lewat foto dan video yang dibuat secara spontan dan serampangan, pada malam-malam hari di saat keponakan yang sedang berkunjung dari kota sebelah sedang lelap tidur. Kebetulan, buntut dari aksi demonstrasi—yang hampir—nasional, banyak murid sekolah yang diliburkan dan/atau berganti mode jadi sekolah daring. A picture is worth a thousand words, jadi sebaiknya saya lampirkan saja gambar-gambar insert visualisasinya di bawah paragraf ini, ketimbang membuat Anda terbosan-bosan membaca racauan saya.


(sumber gambar kiri atas, kanan atas, dan bawah)
Entri ini tersedia pula dalam versi bahasa Inggris.
(sua)