Skip to main content

Command Palette

Search for a command to run...

Pckt...

Updated

Saat Mozilla menyampaikan kabar duka Pocket, saya tidak akan berbohong, saya benar-benar merasa terpukul, saya merasa bagaikan kehilangan seorang teman baik yang—secara harfiah memang—sudah kenal bertahun-tahun. Terus terang, saya tidak pernah menduga hal ini akan datang, apalagi dalam waktu yang sangat singkat, mengejutkan sekaligus mengharukan. Sebelumnya saya sudah berwacana akan menulis sebuah entri untuk mengenang kepergian aplikasi desktop Pocket yang telah di euthanasia oleh Mozilla pada tahun dua ribu dua puluh tiga lalu, kemudian memasukkannya dalam daftar—atau seri—tulisan NLF a.k.a. ‹nothing lasts forever› yang kini sudah berhiaskan dua entri. Tak disangka-sangka, ternyata bukan hanya aplikasi desktop saja yang di sabotage oleh Mozilla beberapa lama kemudian.

(sumber gambar)

Kebetulan saya membaca kata-kata terakhir Pocket lewat layar gawai, yang dengan segera tangkap layar dan bagikan di story Instagram untuk berkeluh-kesah sebagaimana umumnya dilakukan oleh seorang warganet alay, sambil mention akun @kathleenazali karena relatif sama-sama mengetahui sejarahnya. Pada malam harinya kami pun bercakap singkat soal beberapa opsi alternatif pelipur lara, KKKat menceritakan bagaimana kini ia menggunakan Anytype baik untuk notetaking maupun bookmarking, meskipun sempat sama-sama unimpressed seperti saya saat pertama kali mencoba versi betanya, menurut beliau kini Anytype sudah ada banyak perkembangan dan menurutnya dapat menggantikan Notion, Obsidian dan Logseq sekaligus.

Ketika saya sampaikan bahwa warganet sederhana ini hanya butuh sarana untuk bookmarks hoarding dan read later alih-alih personal knowledge management yang terlalu full blown, KKKat dengan secepat kilat langsung segera membagikan tautan entri koleganya yang juga memanfaatkan Raindrop, karena kebetulan saya pun sedang mempertimbangkannya sebagai opsi alternatif pengganti Pocket.

Satu hari berlalu, saya masih belum bisa move on dari kenangan masa lalu bersama Pocket. Sambil menghitung hari sebelum kesempatan terakhir saya bisa export daftar tautan dalam format CSV, saya menelusuri tiap sudut internet untuk membaca kisah-kisah milik orang-orang yang bernasib sama seperti saya. Untungnya, dan seperti biasanya, saya menemukan banyak orang yang sama-sama terlampau sentimental dan menyedihkan seperti saya di kolom komentar entri The Verge. Ada banyak merekomendasikan alternatif Pocket mulai dari yang gratis sampai yang berbayar, meskipun tentunya masih agak tidak rasional bagi saya untuk membayar sesuatu yang biasanya gratis. Saya bertekad akan mencoba semua opsi potensial yang gratis—meskipun hal tersebut pasti akan memakan waktu berhari-hari—tapi tidak hari ini.

(baca Part II)

(sua)