Skip to main content

Command Palette

Search for a command to run...

Rahim dan Janin.

Updated

Sejak purna tugas dari ritme kejar tayang kapitalis, saya berusaha menemukan ritme pengganti yang setidaknya bisa tayang namun tak perlu kejar-kejaran. Sayangnya kondisi ideal tak dikejar tapi bisa tayang kok ya memerlukan upaya tandingan selain angan-angan.

24 jam dalam sehari idealnya terbagi atas 3 partisi, 8 jam bekerja, 8 jam akses kehidupan sosial dan selebihnya untuk istirahat. Dulu saat alokasi waktu untuk bekerja begitu mendominasi diantara yang lain, saya bersumpah serapah akan berkongsi dengan apapun untuk bisa membalas dendam demi keruntuhan kedigdayaannya.

Kini saat kesempatan itu tiba, hal yang pertama saya lakukan adalah berterima kasih pada Sir Tim Berners-Lee «TimBL», karenanya saya memiliki partner kongsi yang luar biasa kooperatif.

Internet, semoga ia tak berkongsi menjadikan saya militan atau penganut aliran never ending scrolling, tapi ia berhasil menyakinkan saya untuk menjadi pengagum konten arus samping «sidestream».

Saya mengagumi energi dibalik konten arus samping. Saya mengagumi energi melawan arus utama. Perlawanan yang tak pernah mudah dan sarat resiko.

Bahkan kadang saya merasa terjangkit OCD «obsessive compulsive disorder», dimana saya sedikit merasa tidak nyaman jika bertemu dengan sajian konten arus utama yang itu-itu saja. Demi mengatasi rasa ketidaknyamanan, saya kerap kali bertingkah bak pengembara yang berkelana menyusuri laman demi laman, konten-konten di belantara media sosial.

Sebagai pengembara tentu selalu saja ada kisah disetiap jeda perjalanan. Saya singgah dan mengambil jeda pada banyak konten dengan isu yang beragam, salah satunya mengenai perempuan. Berkaca pada pengalaman perempuan yang tidak hanya biologis namun juga sosial, ternyata saya menemukan energi-energi mengagumkan khas arus samping bertebaran sporadis tak kalah pamor dengan arus utama.

Platform Rahim dan Janin satu diantaranya yang berhasil membuat saya mengambil jeda lebih lama untuk bisa melakukan hal-hal receh. Yang oleh karena hal-hal receh itu cikal hal-hal besar sarat makna akan terberi juga terisi, bukan oleh ilusi tapi realiti.

Orang-orang pantang menyerah pada kekonyolan kelakar perihal betapa lemahnya perempuan hanya karena tak berhasil mengangkat galon air mineral, bahkan disaat perempuan selama sembilan bulan sepuluh hari mampu berbagi jasad, mengupayakan sisa nafas saat hanya tersaji dua pilihan, berbagi atau bersiap bertukar kehidupan melalui lubang sempit elastis berdiameter rerata 2-3 sentimeter. Pun begitu jika keadaan tak memungkinkan, perempuan tak gentar mengijinkan sayatan menembus satu persatu lapis perut demi kehidupan baru makhluk yang tak hanya membuatnya buncit namun juga mengacak-acak hormon dan emosinya.

Sepadankah anda sekalian membuat perbandingan, masih anda menganggapnya lemah?

Dikala itu semua mengemuka, platform Rahim dan Janin hadir mengupayakan dunia yang ramah perempuan. Menyadari rahim adalah awal kehidupan janin, melalui konten-kontennya platform ini membuat saya tidak hanya suka melainkan jatuh cinta. Cinta caranya memberdayakan, energinya untuk mendengarkan, kesabarannya membersamai, kerendahannya untuk tak menghadirkan konten yang menggurui serta ketulusannya sungguh bukan bualan.

Bukan tanpa alasan saya bisa berkata demikian. Walaupun tak lama, saya pernah dengan sadar dan sukarela menjadi bagian dibalik energi-energi yang mengagumkan tersebut.

Maka serupa selebriti pemengaruh yang menyokong sebuah produk, tak ada alasan bagi saya untuk tak membagi, tak menggunakan word of mouth, dan melalui kemewahan yang telah diupayakan oleh TimBL ini tak lengkap kiranya jika saya tak menebar undangan untuk berkunjung ke rumah Rahim dan Janin.

(ist)​​