Die Neue Routine.

Pada masa kontemplatif sepanjang libur Natal dan tahun baru kemarin, tetiba terbersit dalam benak saya untuk memulai tahun baru 2021 dengan kebiasaan baru pula, yakni rajin menulis di blog. Sebenarnya bukan sebuah ide yang baru juga, sebab saya sudah kerap menjumpai gerakan #TIL di belantara internet setahun terakhir ini.

Selain hashtagToday I Learned tersebut, saya juga semakin sering menjumpai pemilik blog yang menulis rutin dalam hitungan minggu atau bahkan hari. Di sisi lain, menulis jurnal secara rutin juga ternyata cukup banyak manfaatnya. Jadi ibaratnya, kill two birds with one stone, sambil menyelam minum air, you get the picture, pokoknya begitu lah…

Tak banyak nama yang bisa saya sebutkan, sebab saya lebih sering membaca tulisan blog secara acak ketimbang mengikuti beberapa lewat RSS seperti pada zaman kejayaan Google Reader dahulu kala.

Dua figur yang cukup signifikan adalah Sara Soueidan dan Mark Boulton, ditambah dua figur sesi encore yakni Craig Mod dan Robin Rendle yang sebenarnya lebih sering saya jumpai lewat newsletter ketimbang blog.

Lalu satu figur lagi untuk babak bonus, yakni Matthew Butterick, yang meskipun lebih jarang menulis newsletter namun sekali menulis sudah pasti—menurut saya—berbobot isinya.

Saya tak berharap terlampau muluk, saya sekadar berencana menerbitkan satu tulisan setiap hari sepanjang bulan Januari ini, tepatnya selama tiga puluh satu hari. Sedangkan halaman ini akan saya fungsikan menjadi sebagai indeks atau daftar isinya. So, without further ado, here goes nothing.



Pada saat paragraf ini ditulis, kalender digital sudah menampilkan bulan Februari, dan saya sudah menerbitkan tiga puluh satu entri perdana di blog ini. Namun terus terang saya merasa masih curang, sebab ada sejumlah entri berstatus setengah jadi yang tetap saya paksakan terbit dengan jurus pembagian ‹Part I› dan ‹Part II.›

Sebuah teknik tipikal untuk memenggal tulisan panjang, masalahnya adalah saya bukan penulis yang rajin, beberapa entri ‹Part I› yang seyogyanya segera disusul oleh pasangannya hingga kini masih ada yang merana dalam kesendirian. Maka oleh sebab itulah, saya putuskan untuk melanjutkan daftar hari diatas hingga Itang Yunasz hutang lunas.



(sua)